Program MBG Kaltim: 158 Dapur Aktif Beroperasi dalam Pengawasan Ketat Dinkes
Dinas Kesehatan Kalimantan Timur memperketat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan fokus pada kualitas makanan, kebersihan dapur, dan distribusi yang aman, guna memastikan seluruh siswa mendapatkan asupan bergizi yang layak dan terhindar dari risiko kesehatan.
Guetilang, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur meningkatkan pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama pada kualitas makanan dan kebersihan dapur. Hal ini dibahas dalam rapat sosialisasi dan penguatan aturan kerja (SOP) yang dilakukan bersama pihak terkait. Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menekankan bahwa pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses memasak hingga makanan dibagikan ke siswa, agar tetap aman dikonsumsi.
Sementara itu, Chanzul Rijadi menjelaskan bahwa pengawasan tidak hanya melihat kandungan gizi, tetapi juga cara penyajian makanan. Ia menyoroti waktu distribusi yang sebaiknya tidak lebih dari empat jam setelah makanan dimasak, karena jika terlalu lama dapat menurunkan kualitas bahkan berisiko menyebabkan keracunan. Makanan berkuah atau bersantan juga lebih cepat basi, sehingga perlu perhatian khusus, terutama untuk siswa SD yang belum bisa membedakan makanan layak konsumsi.
Dalam pelaksanaannya, pengawasan melibatkan berbagai bidang seperti kesehatan lingkungan dan gizi masyarakat. Jika ada dapur yang tidak memenuhi standar kebersihan, operasionalnya bisa dihentikan sementara sampai diperbaiki. Selain itu, setiap dapur wajib memiliki sertifikat kebersihan sebagai syarat utama agar bisa beroperasi.
Saat ini, terdapat sekitar 190 dapur penyedia makanan di Kalimantan Timur, dengan sebagian besar sudah beroperasi. Program ini telah menjangkau lebih dari 335 ribu penerima manfaat, terutama siswa SMA, SMK, dan SLB. Kota Samarinda menjadi wilayah dengan penerima terbanyak, sementara daerah terpencil seperti Mahakam Ulu masih menghadapi kendala distribusi karena faktor geografis dan biaya.
Pengawasan juga menemukan beberapa pelanggaran, di mana puluhan dapur sempat dihentikan sementara karena tidak memenuhi standar, meski sebagian sudah kembali beroperasi setelah perbaikan. Jika ada dugaan keracunan, makanan akan diuji di laboratorium untuk memastikan keamanannya.
Dinas Kesehatan menekankan pentingnya kerja sama antar pihak dan data yang akurat agar program ini berjalan optimal. Evaluasi akan terus dilakukan agar seluruh siswa di Kalimantan Timur bisa mendapatkan makanan bergizi yang aman dan berkualitas, dengan target capaian mendekati 100 persen pada tahun 2026.
Sumber : Media Kaltim
Annisa Putri Thifalda