*Kunjungan Ketua Warkop Digital Malang ke TPS3R Permata Alam: Antara Suka Duka, Dukungan Lintas Daerah, dan Harapan Ekonomi Sirkular*
Guetilang.com - MALANG, 23 Mei 2026 "Ketua Koordinator Warkop Digital Malang Raya", Erlin Sulistyawati, melakukan kunjungan kerja sekaligus turun langsung ke area pilah sampah di TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle) Permata Alam, Jalan Raya GPA No. 1, Ngijo, Karangploso, Malang, Sabtu pagi (23/5/2026). Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Ketua TPS3R Permata Alam, Faeshol Efendi. Erlin hadir bersama Tim WADI sekaligus Hypnoheart ROH Indonesia, Erdiyanto.
Dalam kunjungan itu, Faeshol menjelaskan bahwa TPS3R Permata Alam mampu mereduksi sampah yang masuk ke TPA hingga 60–75 persen. Keberhasilan tersebut didukung oleh 16 unit mesin dan alat pengolahan yang seluruhnya dibuat oleh warga lokal Ngijo. Mulai dari tukang las, tukang bubut, hingga teknisi elektro terlibat dalam pembuatan konveyor, gibrig, chopper, biopond maggot, kandang BSF, hingga kolam lele.
“Kami juga mendapat bantuan bahan peralatan mentah dari pemerhati lingkungan hidup, Bapak Badrul dari Blitar. Peralatan itu kemudian kami rakit sendiri untuk mendukung proses pengelolaan sampah,” ujar Faeshol.

TPS3R Permata Alam saat ini melayani sekitar 3.000 kepala keluarga dengan volume sampah rata-rata tiga kontainer per hari. Jika sebelumnya seluruh sampah dibuang ke TPA, kini hanya sekitar 0,5 hingga 0,75 kontainer per hari yang tersisa. Sampah organik dapur dipilah dan diolah menjadi pakan bebek serta ayam, sementara sampah organik lainnya dicacah untuk pakan maggot dan kompos. Adapun sampah anorganik dijual guna membantu subsidi operasional TPS3R.
Di balik capaian tersebut, pengurus TPS3R juga menghadapi berbagai tantangan. Faeshol mengungkapkan, keterbatasan jumlah petugas, pengaturan armada angkut yang berada di luar kewenangan pengurus, hingga biaya operasional yang belum seimbang masih menjadi kendala utama. Selain itu, pembayaran iuran warga yang belum tertib kerap mengganggu arus kas operasional.
Meski demikian, Faeshol menilai banyak manfaat yang diperoleh para pengurus selama menjalankan TPS3R. Mereka belajar berbagai hal, mulai dari teknis pengolahan sampah, manajemen internal, pengelolaan keuangan yang transparan, teknologi mesin, hingga membangun relasi dengan masyarakat, dinas lingkungan hidup, akademisi, dan berbagai komunitas.
“Ini adalah soft skill yang jarang didapat dari pendidikan formal,” katanya.
Faeshol berharap TPS3R Permata Alam dapat terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat sekaligus mendukung program pemerintah dalam mengurangi beban TPA. Ia juga berharap Dinas Lingkungan Hidup dapat memberikan pendampingan yang lebih intensif, terutama dalam pelatihan teknis, akses pasar, dan pengembangan kapasitas TPS3R agar bisa naik kelas.
“Semaksimal mungkin kami mengurangi sampah ke TPA. Kalau suatu saat TPA darurat ditutup, kami tidak langsung terdampak,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh operasional TPS3R Permata Alam selama ini didukung melalui iuran warga, investasi masyarakat, serta sistem crowdfunding karena statusnya sebagai TPS mandiri.

Sementara itu, Erlin Sulistyawati melihat potensi besar TPS3R Permata Alam untuk dikembangkan melalui ekosistem digital Warkop Digital. Produk-produk seperti kompos, maggot, dan budidaya lele dinilai memiliki peluang pasar yang luas apabila didukung pemasaran digital dan jaringan distribusi yang tepat.
“Ini adalah bentuk nyata ekonomi sirkular. Sampah bisa menjadi berkah, lingkungan menjadi bersih, dan masyarakat mendapatkan penghasilan. Warkop Digital siap membantu digitalisasi dan akses pasar,” tegas Erlin.
Didampingi Erdiyanto dari Hypnoheart, Erlin juga berdiskusi mengenai penguatan mental dan peningkatan kepercayaan diri para pengurus TPS3R agar semakin berkembang dalam mengelola usaha berbasis lingkungan.
TPS3R Permata Alam kini juga menjadi rujukan studi banding berbagai kalangan, mulai dari Dinas Kesehatan, LSM lingkungan, mahasiswa, dosen, siswa TK hingga SMA, warga pensiunan, hingga pengurus TPS desa tetangga yang ingin belajar sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Dengan slogan “Sampahku Tanggung Jawabku”, TPS3R Permata Alam mengajak masyarakat mulai memilah sampah dari rumah. Sampah organik dan anorganik yang dipilah sejak awal diyakini dapat diolah menjadi pakan ternak, kompos, hingga sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
“Mulailah dari rumah. Sampah yang kita pilah hari ini bisa menjadi manfaat ekonomi sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat,” pungkas Faeshol penuh semangat.