Menjaga Bumi, Merawat Bait Allah: Generasi Muda GSJA Jatim Berkomitmen Jadi Misionaris Lingkungan di Pantai Bajul Mati
MALANG, 26 Juni 2026 – Departemen Kaum Muda Daerah (DKMD) 1 Jawa Timur sukses menggelar aksi lingkungan dan spiritual bertajuk Green Assembly of God (GAG) 2026 di Pantai Bajul Mati, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Jumat (26/6). Mengusung tema “Menjaga Bumi, Merawat Bait Allah”, kegiatan strategis ini dihadiri oleh 99 peserta yang merepresentasikan generasi muda dari Wilayah 1 hingga Wilayah 7.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi registrasi ulang dan penyambutan peserta melalui penyajian welcome drink, yang kemudian langsung dilanjutkan dengan ibadah bersama. Dalam sesi penyampaian Firman Tuhan, Pdt. Jefri Hina, M.Th. menekankan pentingnya peran aktif institusi gereja dalam menghadapi krisis ekologis global saat ini.
“Menjaga bumi harus dimulai dari gereja, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan plastik karena alam adalah bagian dari kita. Gereja harus peduli terhadap krisis lingkungan. Panggilan Allah untuk kita adalah merawat bumi, karena Hukum Sabat juga memelihara alam. Menggereja hijau berarti menggenapi misi Allah, salah satunya menyuarakan keadilan terhadap alam yang tertindas akibat eksploitasi,” tegas Pdt. Jefri dalam khotbahnya.
Lebih lanjut, Pdt. Jefri menjabarkan peta jalan spiritual ekologis melalui Lima Tugas Menggereja Hijau, yaitu:
1. Koinonia: Membangun persekutuan dengan alam sebagai bagian integral dari gereja.
2. Kerygma: Mewartakan kabar keselamatan bagi seluruh makhluk ciptaan.
3. Martyria: Mewujudkan kesaksian hidup yang menciptakan keharmonisan di dunia.
4. Liturgia: Memandang alam semesta sebagai ciptaan yang ikut memuliakan Allah.
5. Diakonia: Melayani alam secara nyata melalui tindakan preventif dan perawatan lingkungan.
Usai pelaksanaan ibadah, aksi konkret pelestarian alam diimplementasikan melalui penanaman pohon mangrove yang dipandu langsung oleh komunitas konservasi lokal, Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC). Tidak hanya itu, para peserta juga diberikan edukasi lapangan dengan melihat secara langsung proses penangkaran dan penyelamatan satwa dilindungi, penyu.
Pihak BSTC menyambut baik inisiatif strategis berbasis komunitas agama ini. Sutari, perwakilan dari BSTC, menyatakan bahwa penyelamatan ekosistem pesisir merupakan tanggung jawab kolektif. "Penyelamatan penyu adalah tanggung jawab kita bersama. Perkembangan penyu sangat lambat, di mana mereka baru bisa bertelur setelah memasuki usia 20 tahun ke atas," jelas Sutari menekankan urgensi perlindungan satwa tersebut.
Ketua Panitia GAG 2026, Christian Ayundi Inarkombu, menjelaskan bahwa esensi utama dari acara ini adalah menumbuhkan kesadaran ekologis generasi muda agar mampu menginterpretasikan misi teologis ke dalam tindakan nyata. Christian berharap agenda ini bertransformasi menjadi program kerja berkelanjutan di tubuh DKMD 1 Jatim.
“Jika hanya diadakan sekali atau dua kali, orang bisa saja lupa. Namun, jika nilai-nilai ini terus ditanamkan ke dalam setiap generasi, hal ini akan menyadarkan mereka sebagai pembawa misi Allah untuk membawa perubahan bagi perlindungan satwa dan lingkungan di sekitar kita. Target kami adalah menjadikan generasi muda sebagai misionaris lingkungan,” cetus Christian.
Respons positif juga datang dari salah satu peserta asal GSJA Yabes Wilayah 6, Debora. Ia mengaku sangat antusias karena ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti ibadah formal yang diintegrasikan langsung dengan edukasi konservasi satwa liar di tepi pantai.
Harapan serupa diungkapkan oleh Bendahara DKMD 1 Jatim, Pdt. Marlon Brando. Ia mengingatkan kembali akar mandat kultural manusia yang tertulis dalam Alkitab, di mana tugas pertama yang diberikan Allah kepada Adam dan Hawa adalah merawat dan mengusahakan Taman Eden.
"Tanggung jawab kita bukan hanya menyelamatkan manusia, meskipun itu sangat penting, tetapi Tuhan juga memanggil kita untuk merawat dan memelihara lingkungan. Saya senang acara GAG ini menolong kita untuk mengasihi dunia seperti Tuhan mengasihinya," tutur Pdt. Marlon. Ia juga menargetkan pergelaran tahun depan dengan skala yang jauh lebih besar dan meriah. (Agus Sugiarta)