Ribuan Pekerja Migran Indonesia Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Akibat Ketegangan Konflik Besar di Timur Tengah

Peringatan bagi pekerja migran Indonesia yang berada di wilayah Timur Tengah agar tetap waspada menyusul peperangan yang semakin memanas antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Pemerintah dan kelompok advokasi serentak menyerukan kewaspadaan tinggi, komunikasi intensif dengan perwakilan Indonesia, serta jaminan perlindungan keselamatan PMI yang bekerja di berbagai negara kawasan tersebut. Eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di wilayah Timur Tengah telah menciptakan ketegangan internasional yang signifikan bukan hanya bagi negara-negara terlibat, tetapi juga terhadap ratusan ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di kawasan tersebut. Pemerintah Indonesia melalui dinas terkait, serta organisasi advokasi seperti Migrant CARE, mengimbau PMI untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal RI di negara penempatan, serta mengurangi aktivitas di luar yang berisiko. Organisasi Migrant CARE juga menyatakan kekhawatiran terhadap peningkatan risiko terhadap keselamatan PMI karena kondisi perang dan ancaman potensi krisis kemanusiaan di beberapa area konflik. Mereka mendesak pemerintah Indonesia untuk membuka kanal informasi dan pengaduan yang lebih responsif serta menyiapkan rencana kontinjensi guna melindungi PMI di daerah yang paling terdampak. Selain itu, pemerintah Indonesia terus memantau situasi, berkoordinasi dengan Kemenlu dan perwakilan RI guna memastikan keselamatan warga negaranya.

Ribuan Pekerja Migran Indonesia Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Akibat Ketegangan Konflik Besar di Timur Tengah
Ilustrasi pekerja migran Indonesia di kawasan Timur Tengah yang memantau informasi situasi keamanan terkait eskalasi konflik Iran–AS–Israel, dengan latar suasana Timur Tengah dan aktivitas kerja PMI.
Ribuan Pekerja Migran Indonesia Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Akibat Ketegangan Konflik Besar di Timur Tengah
Ribuan Pekerja Migran Indonesia Diminta Tingkatkan Kewaspadaan Akibat Ketegangan Konflik Besar di Timur Tengah

Jakarta, Indonesia / Timur Tengah —
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang semakin memanas akibat bentrokan militer antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel telah memicu peningkatan risiko keamanan tidak hanya bagi negara-negara yang terlibat, tetapi juga bagi warga asing termasuk pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di wilayah tersebut.

Pihak berwenang Indonesia di Jawa Tengah menyampaikan imbauan kepada sekitar 900 PMI asal Jawa Tengah yang tersebar di 17 negara Timur Tengah agar tetap waspada dan menjalin komunikasi rutin dengan perwakilan RI di masing-masing negara. Mayoritas PMI bekerja di sektor informal, terutama di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan negara lain.

Direktur eksekutif Migrant CARE, sebuah organisasi advokasi pekerja migran, menyatakan bahwa eskalasi konflik ini berpotensi membahayakan kondisi keselamatan PMI, dan menuntut pemerintah Indonesia untuk lebih proaktif dalam memastikan perlindungan sosial, sumber informasi yang mudah diakses, serta rencana tanggap darurat bagi PMI yang berada di zona dampak perang.

Pemerintah melalui Kemenlu dan perwakilan RI juga terus memantau kondisi WNI di Arab Saudi, UEA, dan negara lainnya di kawasan. KBRI di Riyadh melaporkan terus melakukan pengawasan terhadap warga Indonesia melalui paguyuban di Arab Saudi, sambil memastikan jalur komunikasi tetap terbuka untuk kebutuhan darurat.

Selain itu, otoritas Indonesia juga berkoordinasi dengan maskapai penerbangan internasional agar meningkatkan kewaspadaan operasional menjelang atau selama penerbangan yang melintasi wilayah udara Timur Tengah mengingat potensi gangguan akibat situasi konflik.