Harga Bahan Pokok Naik di Sejumlah Daerah, Daya Beli Masyarakat Tertekan
Harga beras, cabai, dan telur di Jakarta Timur naik dalam dua pekan terakhir. Kenaikan dipicu gangguan pasokan dan distribusi, sehingga menekan daya beli masyarakat serta memicu operasi pasar oleh pemerintah.
Jakarta, 5 Maret 2026. Kenaikan harga bahan pokok kembali dirasakan masyarakat di berbagai daerah. Komoditas seperti beras, cabai, dan telur ayam mengalami kenaikan dalam dua pekan terakhir, memicu kekhawatiran terhadap daya beli rumah tangga.
Data pemantauan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga beras medium naik antara 5 hingga 8 persen dibanding awal Februari. Di beberapa pasar tradisional Jakarta dan Jawa Barat, harga cabai merah menembus Rp80.000 per kilogram akibat pasokan yang terganggu cuaca.
Sejumlah pedagang mengaku pasokan dari sentra produksi berkurang karena curah hujan tinggi. Distribusi ikut terdampak. Biaya transportasi meningkat, lalu dibebankan pada harga jual di tingkat konsumen.
Kenaikan harga pangan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Berdasarkan survei internal lembaga riset konsumen, porsi belanja pangan masyarakat berpenghasilan rendah mencapai lebih dari 50 persen dari total pengeluaran bulanan. Saat harga naik, ruang belanja untuk kebutuhan lain menyempit.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan melakukan operasi pasar di beberapa kota besar untuk menekan lonjakan harga. Stok cadangan beras pemerintah disalurkan secara bertahap. Bank Indonesia menyatakan inflasi pangan menjadi faktor utama kenaikan inflasi bulanan pada awal tahun ini.
Ekonom menilai kondisi ini perlu respons cepat agar tidak menekan konsumsi. Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi nasional. Jika daya beli melemah, pertumbuhan ekonomi berisiko melambat.
Di sisi lain, kenaikan harga memberi dampak berbeda bagi petani. Petani cabai di Jawa Tengah mengaku harga di tingkat petani belum sepenuhnya mencerminkan kenaikan di pasar. Rantai distribusi yang panjang membuat selisih harga cukup besar antara produsen dan konsumen.
Pemerintah daerah diminta memperkuat pengawasan distribusi dan mempercepat informasi stok agar gejolak harga tidak berulang. Stabilitas harga pangan menjadi kunci menjaga kesejahteraan masyarakat, terutama menjelang bulan Ramadan ketika permintaan biasanya meningkat.
Lutfi Aliy Syabana