Hanya Karena Barcode, Oknum Mengaku 'Ajudan Jenderal' Aniaya 3 Pegawai SPBU Cipinang Hingga Gigi Patah

Insiden kekerasan yang menimpa tiga orang karyawan SPBU di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur. Kekerasan dipicu oleh penolakan petugas untuk mengisi BBM subsidi (Pertalite) karena adanya ketidaksesuaian data pada QR Code yang disodorkan pelaku (Barcode Toyota Kijang digunakan untuk mobil Toyota Alphard).

Hanya Karena Barcode, Oknum Mengaku 'Ajudan Jenderal' Aniaya 3 Pegawai SPBU Cipinang Hingga Gigi Patah
Tangkapan Layar Aparat Keamanan di SPBU Cipinang

Jakarta, GUETILANG – Aksi koboi jalanan kembali terjadi di Jakarta Timur. Sebanyak tiga orang pegawai SPBU 3413901 Cipinang, Pulogadung, menjadi korban penganiayaan oleh seorang pengemudi mobil mewah yang mengaku sebagai orang dekat pejabat tinggi Polri pada Minggu malam (22/2/2026).

Insiden yang terekam kamera pengawas (CCTV) ini kini viral di media sosial dan tengah dalam penyelidikan intensif pihak kepolisian.

Kronologi Kejadian: Tolak Isi Pertalite

Peristiwa bermula sekitar pukul 22.00 WIB saat sebuah mobil mewah jenis Toyota Alphard masuk ke jalur pengisian BBM subsidi. Pelaku hendak mengisi Pertalite menggunakan QR Code (barcode) subsidi.

Namun, saat dipindai oleh operator, sistem menunjukkan ketidaksesuaian data. Barcode yang disodorkan terdaftar untuk kendaraan Toyota Kijang, bukan Alphard yang dikendarai pelaku. Sesuai SOP Pertamina, petugas SPBU menolak melakukan pengisian dan menyarankan penggunaan BBM non-subsidi (Pertamax).

Intimidasi dan Kekerasan Fisik

Tak terima ditegur, pelaku langsung turun dari mobil dan melakukan intimidasi. Pelaku berkali-kali membentak petugas dengan membawa-bawa nama pejabat tinggi.

"Pelaku sempat berteriak, 'Kamu tahu tidak ini barcode-nya Jenderal?' Dia juga sempat menyebut nama Kapolda untuk menakut-nakuti staf kami," ujar Ernesta, pemilik SPBU, saat memberikan keterangan kepada media.

Ketegangan memuncak hingga terjadi aksi kekerasan fisik terhadap tiga orang pegawai:

  1. Abud Mahmudin: Mengalami luka parah di bagian mulut hingga giginya patah akibat hantaman keras pelaku.
  2. Lukmanul Hakim (19): Operator muda yang baru lulus sekolah ini dipukul di rahang dan sempat diancam akan dibunuh saat mencoba lari ke arah mess.
  3. Ahmad Khoirul Anam: Selaku pengawas, ia ditampar dan kepalanya didorong hingga terbentur bodi mobil.

Polisi Buru Pelaku, Propam Turun Tangan

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur, AKBP Dicky Fertoffan, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi dan hasil visum para korban.

"Kami sedang mengidentifikasi identitas pelaku melalui rekaman CCTV dan nomor polisi kendaraan. Kami tidak mentolerir aksi kekerasan terhadap pelayan publik," tegas Dicky.

Mengingat pelaku membawa-bawa institusi Polri, Bidang Propam Polda Metro Jaya juga dilaporkan telah turun ke lokasi untuk memastikan apakah pelaku merupakan anggota aktif atau warga sipil yang mengaku-ngaku (gadungan).

Hingga berita ini diturunkan, ketiga korban masih dalam kondisi trauma dan terpaksa diliburkan sementara dari pekerjaannya. Pihak SPBU berharap kepolisian segera menangkap pelaku untuk memberikan rasa aman kepada para pekerja.