Mengejutkan, Goa Dadakan Muncul Setelah Longsor di Desa Jombok, Ngantang, Kabupaten Malang

Setelah hujan deras yang mengguyur desa Jombok dalam akhir minggu Februari ini menyebabkan longsor di bahu jalan. Retakkan jalan aspal yang sudah lama ini diperparah dengan longsor yang tiba-riba muncul sehingga menyebabkan jalan amblas dan rusak. Tak hanya itu saja fenomena bencana ini menciptakan goa dadakan di bawah jalan sepanjang 12 meter yang menghebohkan masyarakat di Desa Jombok.

Mengejutkan, Goa Dadakan Muncul Setelah Longsor di Desa Jombok, Ngantang, Kabupaten Malang
Goa dadakan terbentuk setelah adanya longsor

Guetilang.com, Malang - Warga Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, dikejutkan oleh peristiwa longsor yang cukup ekstrem pada Senin (2/3/2026). Sebuah ruas jalan tiba-tiba amblas hingga kedalaman sekitar 12 meter, membentuk lubang besar yang sekilas tampak seperti mulut goa. Peristiwa ini sontak membuat warga sekitar terkejut sekaligus khawatir karena jalan tersebut merupakan akses penting bagi aktivitas masyarakat.

Kerusakan infrastruktur yang terjadi di kawasan tersebut tergolong cukup parah. Tanah yang ambles membentuk lubang raksasa dengan dinding tanah yang curam, sehingga dari kejauhan terlihat seperti sebuah goa alami di tengah jalan. Akibat kejadian ini, jalur utama penghubung antar dusun terputus dan tidak dapat dilalui secara normal.

Peristiwa longsor tersebut terjadi di wilayah Ganten, Desa Jombok, sekitar pukul 10.15 WIB. Jalan yang mengalami kerusakan merupakan jalur vital yang menghubungkan Dusun Ngembul dengan Dusun Bulurejo. Selama ini, jalan tersebut menjadi akses utama bagi warga untuk menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga kegiatan ekonomi sehari-hari.

Kronologi Kejadian

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, menjelaskan bahwa sebelum jalan benar-benar amblas, warga sempat melihat tanda-tanda awal kerusakan pada permukaan jalan. Retakan mulai terlihat di beberapa bagian jalan serta di area jembatan yang berada di dekat lokasi kejadian.

“Berdasarkan laporan dari warga di lapangan, awalnya muncul retakan pada badan jalan dan jembatan penghubung. Tidak lama setelah itu, sekitar pukul 10.15 WIB, jalan tersebut tiba-tiba amblas dengan ukuran yang cukup besar,” ujar Sadono saat mengonfirmasi laporan dari Pusdalops PB BPBD Kabupaten Malang.

Dari hasil pendataan sementara di lokasi, diketahui bahwa kerusakan yang terjadi cukup signifikan. Lubang yang terbentuk memiliki lebar sekitar 5 meter, dengan panjang jalan yang tergerus mencapai kurang lebih 20 meter. Sementara itu, kedalaman longsoran diperkirakan mencapai sekitar 12 meter, sehingga membuat area tersebut sangat berbahaya untuk dilintasi.

Beruntung, dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa. Meski demikian, longsornya jalan tersebut menyebabkan terganggunya aktivitas warga secara signifikan. Jalur transportasi yang biasa digunakan kini tidak dapat dilalui kendaraan secara normal.

Dengan kedalaman lubang yang mencapai belasan meter, kendaraan roda empat dipastikan tidak dapat melewati jalur tersebut. Saat ini, hanya kendaraan roda dua yang masih bisa melintas dengan sangat hati-hati. Bahkan, pengendara sepeda motor harus bergantian saat melewati jalur sempit yang tersisa di tepi jalan.

“Sementara ini hanya kendaraan roda dua yang masih bisa lewat, itu pun harus dilakukan secara bergantian dan pengendara diminta ekstra hati-hati karena kondisi tanah di sekitar lokasi masih rawan,” tambah Sadono.

BPBD Kabupaten Malang memperkirakan kerugian materiil akibat kerusakan infrastruktur ini mencapai sekitar Rp80 juta. Selain kerusakan pada badan jalan, pondasi jembatan yang berada di sekitar lokasi juga terancam terdampak pergerakan tanah.

Saat ini, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Malang bersama unsur Forkopimcam Ngantang, PMI, serta perangkat Desa Jombok telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan assessment atau kaji cepat guna mengetahui tingkat kerusakan serta potensi bahaya lanjutan.

Sebagai langkah awal untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, petugas telah memasang garis pembatas di sekitar area longsor. Selain itu, sejumlah rambu peringatan juga dipasang di titik-titik retakan guna memberi tanda kepada warga agar lebih waspada saat melintas.

“Kami sudah memasang garis pembatas sementara serta rambu-rambu keselamatan di sekitar titik retakan untuk menghindari risiko kecelakaan,” jelas Sadono.

BPBD juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melintas di sekitar lokasi kejadian pada malam hari atau ketika hujan deras turun. Pasalnya, kondisi tanah di area tersebut masih berpotensi mengalami pergerakan sehingga dikhawatirkan dapat memicu longsor susulan.

Dilansir dari : Ketikmalang.com