Mengenali Gejala Baby Blues Syndrome dan Strategi Ampuh untuk Mencegahnya
Masa nifas atau minggu-minggu pertama setelah kelahiran bayi seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan, namun pada kenyataannya periode ini rentan memicu gangguan suasana hati. Hampir setiap ibu baru rentan mengalami gangguan emosional yang dikenal dengan baby blues syndrome. Kondisi ini umumnya muncul pada hari pertama hingga hari keempat belas setelah proses persalinan, dan gejalanya sering kali memuncak pada hari kelima. Berikut Penjelasannya.
https://guetilang.com - Baby blues syndrome adalah sebuah gangguan perasaan atau gangguan emosional ringan yang terjadi pada ibu setelah proses persalinan. Untuk memahami mendalam, perlu untuk mengetahui gejala dan pemicu terjadinya baby blues serta strategi untuk mengurangi hal tersebut.
Mengenali Gejala dan Pemicunya:
Seorang ibu yang mengalami baby blues syndrome biasanya menunjukkan gejala seperti merasa cemas tanpa sebab yang jelas, susah tidur, merasa lelah dan lesu, mudah tersinggung, serta tidak bisa berkonsentrasi. Gejala ini juga kerap disertai dengan reaksi sedih, sering menangis, perasaan yang labil, hingga hilangnya nafsu makan.
Penyebab sindrom ini sangat kompleks. Beberapa faktor utamanya meliputi perubahan hormon, rasa stres, ASI yang tidak keluar, hingga kurangnya dukungan dari suami dan keluarga. Selain masalah psikologis, faktor kelelahan fisik akibat kurang istirahat dan peran baru merawat bayi sangat memicu terjadinya baby blues syndrome.
Dalam rutinitas mengasuh bayi, ibu sering kali melakukan gerakan berulang ke arah depan yang tanpa disadari dapat memperkuat otot untuk terus berada dalam posisi tersebut. Hal ini memaksa tubuh beradaptasi ke dalam postur kepala ke depan atau forward head posture (FHP). Posisi abnormal yang dipertahankan dalam waktu lama ini membuat otot leher tegang, kelelahan, dan memicu banyak sakit kepala tegang yang sering disebut sakit kepala servikogenik.

Strategi Ampuh Mencegah Baby Blues Syndrome untuk mencegah kondisi ini bertambah buruk, ada beberapa strategi psikologis dan fisik yang bisa diterapkan:
• Memaksimalkan Dukungan Suami: Dukungan dari suami adalah salah satu faktor terpenting untuk mencegah baby blues. Ibu nifas sangat membutuhkan bantuan nyata dalam merawat bayi, serta dukungan emosional, informasional, maupun penghargaan dari pasangannya. Dengan kerja sama yang baik antara suami dan istri, ibu bisa terhindar dari sindrom ini.
• Menata Ulang Rutinitas: Dengan bantuan keluarga atau teman, ibu mungkin perlu menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau menghilangkan beberapa kegiatan agar dapat disesuaikan dengan perawatan bayi.
• Memperbaiki Postur dan Peregangan Fisik: Untuk mencegah sakit kepala akibat postur tubuh yang salah, ibu bisa melakukan peregangan. Pelatihan stabilisasi skapula (area bahu) terbukti dapat membuat posisi skapula yang tadinya menunduk ke depan menjadi mendekati normal kembali.
• Persiapan Sejak Dini: Ibu dapat mencegah gejala ini dengan melakukan persiapan secara fisiologis dan psikologis sejak dini sebelum menghadapi persalinan. Dokter atau bidan berperan penting memberikan informasi adekuat tentang proses persalinan agar kejadian baby blues syndrome dapat diatasi sejak dini.
Para ibu yang mengalami kondisi ini sesungguhnya sangat membutuhkan pertolongan dan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran maupun perasaan mereka dari situasi yang menakutkan.
Sumber Jurnal Referensi:
• Wahyuni, N. W. E., Rahyani, N. K. Y., & Senjaya, A. A. (2023). Karakteristik Ibu Postpartum dan Dukungan Suami dengan Baby Blues Syndrome. Jurnal Ilmiah Kebidanan, Vol 11, No 1.
• Meirino, M., & Pranawengrum, D. E. (2024). Pengaruh Konsep Sustained Natural Apophyseal Glide Mulligan dan Latihan Scapular Stabilization dalam Meredakan Sakit Kepala Postur Kepala Depan. Prodi Fisioterapi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hesti Wira Sriwijaya.