Bantengan, Warisan Budaya yang Tetap Hidup di Losari Singosari

Bantengan di Desa Losari, Singosari, Kabupaten Malang, menjadi warisan budaya yang tetap lestari di tengah modernisasi. Kesenian tradisional ini tidak hanya sarat nilai sejarah dan spiritual, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga serta mendukung ekonomi lokal.

Bantengan, Warisan Budaya yang Tetap Hidup di Losari Singosari
Sumber: Gemini ai

Malang — Di tengah arus modernisasi, kesenian tradisional bantengan tetap bertahan dan menjadi identitas budaya masyarakat di wilayah Singosari, khususnya di Desa Losari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kesenian ini tidak hanya menjadi tontonan hiburan, tetapi juga sarat nilai sejarah, spiritual, dan kebersamaan warga.

Bantengan merupakan seni pertunjukan khas Jawa Timur yang memadukan unsur tari, musik tradisional, pencak silat, hingga nuansa magis. Dalam pertunjukannya, dua orang memainkan replika kepala banteng yang dihias sedemikian rupa, diiringi tabuhan gamelan dan sorak penonton. Gerakannya dinamis dan penuh energi, menggambarkan karakter banteng yang kuat dan gagah.

Secara historis, bantengan diyakini telah berkembang sejak masa Kerajaan Singhasari. Jejak budaya ini bahkan kerap dikaitkan dengan relief candi di kawasan Singosari yang menggambarkan simbol-simbol kekuatan dan hewan mitologis. Hal ini memperkuat posisi bantengan sebagai warisan budaya yang berakar kuat di wilayah tersebut.

Di Desa Losari, bantengan kerap ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti peringatan hari besar, bersih desa, hingga festival budaya. Selain menjadi ajang pelestarian tradisi, pertunjukan ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga. Saat pentas digelar, pelaku UMKM lokal biasanya turut meramaikan acara dengan membuka lapak makanan dan produk kerajinan.

Keberadaan bantengan menjadi simbol kekompakan warga. Proses latihan hingga pementasan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemuda, sesepuh desa, hingga kelompok seni tradisional. Nilai gotong royong dan solidaritas tercermin dalam setiap tahapan persiapan dan pelaksanaannya, sehingga kesenian ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang mempererat kebersamaan antarwarga.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Perlu adanya pembinaan dan dukungan berkelanjutan agar generasi muda tetap tertarik mempelajari seni tradisi ini. Festival dan kegiatan budaya dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga eksistensi bantengan sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

Dengan semangat pelestarian yang terus dijaga, bantengan di Desa Losari, Kecamatan Singosari, bukan sekadar pertunjukan tradisional, melainkan identitas budaya yang hidup dan tumbuh bersama masyarakatnya. Kesenian ini menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana edukasi budaya bagi generasi muda untuk mengenal akar tradisi daerahnya. Melalui keterlibatan aktif warga, dukungan kegiatan desa, serta partisipasi komunitas seni, bantengan terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang patut dijaga, dikembangkan, dan dikenalkan lebih luas kepada masyarakat.

Sumber:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. “Bantengan Jawa Timur: Sebuah Seni Pertunjukan Unsur Sendratari.” Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diakses melalui: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/bantengan-jawa-timur-sebuah-seni-pertunjukan-unsur-sendratari/

Pemerintah Desa Losari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. “Bazar dan Kesenian Bantengan di Desa Losari RW 1 Merayakan Tradisi dan Kekuatan Ekonomi Lokal.” Diakses melalui: https://kel-losari.malangkab.go.id/berita/kel-losari-opd%403507-bazar-dan-kesenian-bantengan-di-desa-losari-rw-1-merayakan-tradisi-dan-kekuatan-ekonomi-lokal