Ancaman Global Mpox: Dinamika Penularan, Hambatan Penanganan, dan Prospek Terapeutik

Mpox (sebelumnya Monkeypox) adalah penyakit infeksi zoonotik dari famili Poxviridae yang kembali muncul dan menjadi ancaman kesehatan global. Virus ini menular dari hewan ke manusia, serta antarmanusia melalui kontak fisik yang erat. Penanganan wabah Mpox saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan alat diagnostik, ketersediaan vaksin, hingga melemahnya imunitas global. Meski demikian, pencegahan silang menggunakan vaksin cacar (smallpox) dan penggunaan antivirus seperti Tecovirimat menunjukkan hasil yang menjanjikan. Ke depannya, pengendalian penyakit ini membutuhkan pendekatan multidisiplin dan penelitian lanjutan untuk menciptakan solusi medis yang lebih spesifik dan merata.

Ancaman Global Mpox: Dinamika Penularan, Hambatan Penanganan, dan Prospek Terapeutik

Mpox (sebelumnya dikenal sebagai Monkeypox) merupakan penyakit infeksi lintas spesies (zoonotik) yang dipicu oleh patogen dari famili Poxviridae. Belakangan ini, penyakit tersebut kembali mengalami kebangkitan dan memicu kekhawatiran krisis kesehatan publik di tingkat global. Secara klinis, tanda yang muncul pada permukaan kulit penderita sangat identik dengan cacar manusia (smallpox) yang diakibatkan oleh virus Variola. Hal ini wajar, mengingat virus Mpox—yang berbasis DNA—berasal dari garis keturunan atau genus yang sama, yakni Orthopoxvirus.

Asal Usul dan Mekanisme Penyebaran

Reservoir atau inang alami utama dari patogen ini mencakup primata non-manusia, kelompok hewan pengerat (rodensia), serta kelinci. Pada siklus awalnya, hewan-hewan inilah yang menularkan patogen kepada manusia, yang kemudian memicu rantai penularan antarmanusia.

Secara historis, jejak virus ini pertama kali dideteksi pada koloni kera ekperimental pada tahun 1958. Dua belas tahun berselang, tepatnya pada 1970, infeksi perdana pada manusia terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo pada seorang bayi berusia sembilan bulan yang belum pernah menerima imunisasi cacar.

Lonjakan kasus yang signifikan terjadi pada wabah global tahun 2022. Patogen ini terbukti sangat mudah berpindah melalui interaksi fisik jarak dekat dan intens. Penularan dapat terjadi melalui:

  • Kontak langsung antar-kulit atau pertukaran cairan tubuh.
  • Paparan mukosa seperti mulut ke mulut atau mulut ke kulit.
  • Aktivitas intim, termasuk ciuman dan berbagai bentuk kontak seksual.

Meski transmisi dari hewan ke hewan di alam liar masih mendominasi statistik, penularan antarmanusia menunjukkan tren eskalasi. Insidensi kasus tercatat melonjak di komunitas pria yang berhubungan seks dengan pria (LSL) akibat kontak intim. Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui benda yang terkontaminasi (fomite) seperti pakaian atau seprai penderita.

Faktor Penghambat dalam Pengendalian Wabah

Upaya mitigasi dan penanggulangan Mpox di berbagai belahan dunia masih berhadapan dengan sejumlah batu sandungan yang kompleks:

  • Ekspansi Demografi dan Deforestasi: Pertumbuhan populasi yang masif dan perambahan hutan mempersempit jarak antara habitat manusia dan satwa liar, meningkatkan risiko limpahan zoonotik (zoonotic spillover).
  • Pembawa Virus Asimtomatik: Individu yang terinfeksi tidak selalu memunculkan gejala klinis yang kasat mata, sehingga menyulitkan upaya pelacakan kontak (contact tracing).
  • Kerentanan Imunitas Global: Penurunan sistem kekebalan tubuh masyarakat secara massal akibat komplikasi penyakit penyerta, termasuk dampak jangka panjang dari pandemi COVID-19.
  • Kesenjangan Infrastruktur Diagnostik: Banyak negara berkembang yang kekurangan fasilitas laboratorium dengan teknologi memadai untuk mendeteksi virus secara presisi dan cepat.
  • Kelangkaan Pasokan Antivirus: Akses terhadap obat-obatan khusus penangkal virus masih sangat terbatas dan tidak merata.
  • Ketimpangan Distribusi Vaksin: Produksi dan ketersediaan vaksin penangkal masih menjadi barang langka di area yang paling terdampak.

Strategi Pencegahan dan Intervensi Medis Saat Ini

Untuk menekan laju infeksi, imunisasi cacar konvensional (smallpox vaccine) saat ini didayagunakan sebagai pelindung silang (cross-protection) guna mencegah Mpox.

Sementara itu, pendekatan kuratif menggunakan obat antivirus difokuskan bagi penderita yang memiliki kontraindikasi terhadap vaksinasi, khususnya kelompok dengan gangguan sistem kekebalan tubuh (imunokompromais) yang rentan mengalami reaksi fatal jika diberikan vaksin hidup. Kemajuan riset farmakologi menunjukkan titik terang dengan diujinya beberapa agen antivirus seperti Tecovirimat, Brincidofovir, dan Cidofovir. Dari ketiga kandidat tersebut, Tecovirimat (yang telah mengantongi izin dari BPOM Amerika Serikat/FDA sejak Juli 2018) memperlihatkan efikasi yang luar biasa dalam menekan kemampuan replikasi virus pada berbagai uji praklinis.

Tinjauan Masa Depan

Terlepas dari berbagai intervensi yang telah diimplementasikan, Mpox terus menjadi ancaman laten bagi ketahanan kesehatan dunia. Merancang strategi mitigasi dan terapi yang ampuh menuntut sinergi lintas disiplin ilmu yang tidak hanya menambal kelemahan saat ini, tetapi juga mengantisipasi evolusi virus di masa depan. Inovasi melalui riset dan pengembangan mutlak diperlukan untuk melahirkan formulasi vaksin yang lebih spesifik, obat terapeutik yang lebih manjur, serta perangkat diagnostik yang lebih akurat demi menumpas kebangkitan Mpox secara tuntas.