Konsisten Sejak 2017, Telur Asin “Aji” Jadi Usaha Rumahan yang Tetap Bertahan
Usaha telur asin “Aji” milik Supari yang dirintis sejak 2017 mampu memproduksi 90–100 butir per hari. Bersertifikat halal sejak 2022 dan dipasarkan melalui warung, pasar, serta pemesanan WhatsApp.
Malang — Di tengah dinamika usaha rumahan yang terus berubah, ketekunan menjadi kunci utama agar tetap bertahan. Hal itulah yang dibuktikan oleh Supari melalui usaha telur asin “Aji” yang ia rintis sejak tahun 2017 dan masih berjalan hingga saat ini.
Perjalanan usaha tersebut tidak langsung mulus. Sebelum memproduksi telur asin, Supari sempat membuka usaha jamur tiram. Namun usaha tersebut harus dihentikan karena kendala tempat. Ia kemudian mencoba beternak ayam bangkok, tetapi mengalami kerugian akibat tingginya biaya pakan. Dari berbagai pengalaman itu, Supari akhirnya memutuskan untuk beralih ke produksi telur asin yang dinilai lebih stabil dan berkelanjutan.
Nama “Aji” sendiri memiliki makna khusus. Nama tersebut terinspirasi dari Asiaji, anak ketiganya, sebagai bentuk doa dan harapan agar usaha yang dijalankan membawa keberkahan bagi keluarga.
Dalam proses pembuatannya, telur asin “Aji” melalui tahapan yang cukup teliti. Telur mentah dicuci terlebih dahulu, kemudian direndam menggunakan adonan semen merah selama 10 hari. Setelah proses perendaman, telur kembali dicuci dan direbus selama kurang lebih tiga jam hingga matang sempurna. Proses ini dilakukan untuk menjaga cita rasa dan kualitas produk.
Saat ini, Supari mampu memproduksi sekitar 90 hingga 100 butir telur asin per hari, atau setara dengan 9 pack karena setiap pack berisi 10 butir. Produk tersebut dipasarkan dengan harga Rp31.000 per pack atau Rp3.100 per butir. Untuk masa simpan, telur asin “Aji” dapat bertahan selama 7 hingga 8 hari.
Dari sisi legalitas, produk ini telah mengantongi sertifikat halal sejak tahun 2022, sehingga memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi konsumen.
Pemasaran telur asin “Aji” masih dilakukan secara langsung melalui warung-warung dan pasar. Pemesanan juga dapat dilakukan melalui WhatsApp. Hingga saat ini, produk tersebut belum dipasarkan melalui marketplace digital. Dalam perkembangannya, Supari mengakui produksi telur sempat mengalami penyesuaian karena adanya program MBG yang turut menggunakan telur sebagai komoditas utama.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Supari tetap berkomitmen menjaga kualitas dan konsistensi produksi. Usaha telur asin “Aji” menjadi salah satu contoh UMKM yang tumbuh dari pengalaman, ketekunan, serta semangat untuk terus beradaptasi.
Ke depan, diharapkan usaha ini dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya di wilayah setempat untuk berani mencoba dan tidak mudah menyerah dalam membangun usaha.
alfi.widayanti