Rupiah Kembali Melemah, Tembus Rp 17.606 per Dolar AS
Melemahnya nilai Rupiah diakibatkan oleh sentimen global dan musim dividen
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan yang signifikan pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Mata uang Indoensia terpantau menunjukkan kemerosotan kisaran Rp 17.606 per dolar AS, atau melemah sekitar 0,44% dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Tekanan terhadap mata uang domestik ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan kebutuhan musiman di dalam negeri. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah mendorong investor untuk mengalihkan aset mereka ke mata uang aman (safe haven) seperti dolar AS. Selain itu, harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di atas US$ 100 per barel turut memperberat neraca perdagangan Indonesia sebagai negara importir neto minyak, yang secara otomatis menekan ketersediaan valuta asing.
Di sisi lain, spekulasi mengenai kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang tetap tinggi dalam waktu lama (higher for longer) membuat imbal hasil obligasi AS jauh lebih menarik bagi investor dibandingkan aset-aset di pasar negara berkembang. Dari faktor internal, kenaikan permintaan dolar AS juga dipicu oleh siklus tahunan pembayaran dividen perusahaan ke luar negeri serta kebutuhan pendanaan untuk biaya ibadah haji yang puncaknya terjadi pada bulan ini.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) menyatakan terus memantau pergerakan pasar secara intensif dan berkomitmen melakukan langkah-langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Meskipun kondisi fundamental ekonomi nasional dinilai masih cukup kuat dengan cadangan devisa yang memadai, para pelaku usaha kini mulai waspada terhadap potensi kenaikan biaya bahan baku impor yang dapat memicu kenaikan harga barang di tingkat konsumen dalam waktu dekat. Para analis memprediksi rupiah masih akan bergerak fluktuatif selama ketidakpastian global belum mereda.
Cahya Awani R