Berawal dari Pelatihan Desa, Keripik Tempe De Ambar Tumbuh Menjadi UMKM Unggulan Sanankerto
UMKM Keripik Tempe De Ambar di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, berkembang sejak 2019 berawal dari pelatihan desa dan dikelola oleh Bu Wiwit dengan memproduksi keripik tempe dari bahan baku kedelai hingga menjadi produk siap konsumsi.
UMKM Keripik Tempe De Ambar yang berlokasi di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, terus menunjukkan perkembangan sebagai usaha olahan pangan berbasis komoditas lokal. Usaha yang dikelola oleh Bu Wiwit ini mulai dirintis sejak tahun 2019 dan menjadikan tempe sebagai bahan utama produk unggulan. Keberadaan UMKM tersebut sejalan dengan upaya penguatan sektor ekonomi kerakyatan melalui pengolahan pangan bernilai tambah di wilayah pedesaan.
Perintisan usaha Keripik Tempe De Ambar berawal dari keikutsertaan Bu Wiwit dalam pelatihan pembuatan keripik tempe yang diselenggarakan oleh pemerintah desa. Pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan tersebut kemudian dikembangkan secara mandiri dengan melakukan berbagai percobaan produksi. Proses tersebut menghasilkan produk keripik tempe yang dibuat dari tahap awal, mulai dari pengolahan kedelai hingga menjadi makanan ringan siap konsumsi.
Aktivitas produksi dilakukan dengan memperhatikan standar kebersihan dan kualitas bahan baku guna menjaga mutu produk. Proses pengolahan yang konsisten menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan konsumen. Upaya tersebut dilakukan agar produk yang dihasilkan memiliki cita rasa yang stabil dan daya simpan yang memadai.
Selain berorientasi pada kualitas produk, Keripik Tempe De Ambar juga mengedepankan aspek pemberdayaan masyarakat. Kegiatan produksi melibatkan warga sekitar sebagai tenaga kerja, khususnya dalam proses pengolahan dan pengemasan. Pola pemberdayaan ini memberikan dampak ekonomi langsung serta mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan usaha produktif.
Produk yang dihasilkan oleh UMKM Keripik Tempe De Ambar cukup beragam dan menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Jenis produk yang diproduksi meliputi keripik tempe tepung, keripik tempe sagu, dan keripik menjes. Variasi produk tersebut menjadi strategi untuk meningkatkan daya saing serta memperluas pilihan bagi konsumen.
Dalam upaya pengembangan usaha, Keripik Tempe De Ambar juga memperoleh dukungan berupa bantuan peralatan dari pemerintah. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi serta menunjang kapasitas usaha. Dukungan sarana produksi menjadi faktor pendukung penting bagi UMKM dalam meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha.
Keberadaan Keripik Tempe De Ambar diharapkan dapat menjadi contoh UMKM desa yang mampu berkembang secara mandiri dengan memanfaatkan potensi lokal. Usaha ini dinilai memiliki peran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Pengembangan UMKM berbasis pangan lokal seperti ini diharapkan dapat terus didorong sebagai bagian dari penguatan ekonomi daerah.
Indah Sofi H.