Pelanggaran Siswa di SMK Mahadhika 3: Memahami Aturan Penekanan Anti Pelanggaran Sekolah

SMK Mahadhika 3 Jakarta punya aturan tegas: deklarasi anti kekerasan, kawasan tanpa rokok, dan larangan narkoba. Meski begitu, pelanggaran seperti merokok dan perundungan masih terjadi. Hikmahnya, aturan saja tidak cukup. Butuh dialog dan saling pengertian agar siswa benar-benar memahami dan menjalankan aturan dengan kesadaran sendiri.

Pelanggaran Siswa di SMK Mahadhika 3: Memahami Aturan Penekanan Anti Pelanggaran Sekolah
Tiga siswa SMK Mahadhika 3 sedang di hukum berdiri di tengah lapangan karena terlambat masuk sekolah
Pelanggaran Siswa di SMK Mahadhika 3: Memahami Aturan Penekanan Anti Pelanggaran Sekolah
Pelanggaran Siswa di SMK Mahadhika 3: Memahami Aturan Penekanan Anti Pelanggaran Sekolah
Pelanggaran Siswa di SMK Mahadhika 3: Memahami Aturan Penekanan Anti Pelanggaran Sekolah

Setiap sekolah punya aturan dan setiap sekolah pasti menghadapi pelanggaran. Di SMK Mahadhika 3 Jakarta, seperti kebanyakan sekolah di seluruh Indonesia, siswa kadang melewati batas. Pelanggaran umum berkisar dari hal-hal kecil seperti terlambat datang dan masalah seragam hingga persoalan yang lebih serius seperti merokok, perundungan, atau penyalahgunaan zat terlarang.

 Sekolah telah menunjukkan sikap tegas melalui deklarasi yang terpampang jelas di lingkungan. Salah satu spanduk mencolok menyatakan komitmen menentang kekerasan: "Dengan saya yang bertanda tangan di sini, menyatakan bahwa saya berkomitmen untuk menolak segala bentuk kekerasan di sekolah maupun di luar sekolah." Spanduk lain menetapkan sekolah sebagai "Kawasan Tanpa Rokok" berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2015, dengan imbauan santun: "TERIMA KASIH UNTUK TIDAK MEROKOK!" Peringatan ketiga dengan gamblang memaparkan bahaya narkoba melalui tulisan "BAHAYA NARKOBA!!" dan pesan "NO DRUGS" yang tegas.

 Hikmah yang dapat dipetik adalah bahwa membangun lingkungan sekolah yang positif membutuhkan kemitraan antara guru dan siswa. Aturan menyediakan kerangka, tapi rasa hormat, dialog, dan saling pengertian yang menciptakan komitmen tulus. Ketika siswa merasa didengar dan memahami bahwa aturan ada untuk kesejahteraan mereka, bukan sekadar mengekang, pelanggaran mungkin akan berkurang dengan sendirinya.

Di SMK Mahadhika 3, fondasinya sudah ada. Sekolah telah menampilkan nilai-nilainya secara terbuka. Kini peluangnya terletak pada mengubah deklarasi yang tertempel itu menjadi percakapan hidup yang membimbing siswa tidak hanya untuk menghindari pelanggaran, tetapi juga merangkul tanggung jawab.