Krisis Adab: Gelar Akademik Tinggi, Tapi Sopan Santun Terkikis
KABUPATEN MALANG, PONCOKUSUMO – Indonesia menghadapi tantangan besar terkait degradasi moral di kalangan generasi muda. Meski akses pendidikan tinggi semakin luas, hal ini ternyata tidak berbanding lurus dengan kematangan etika. Fenomena "pintar tapi tidak santun" kini marak terjadi, di mana banyak lulusan terdidik justru kehilangan rasa hormat terhadap orang yang lebih tua.
Para ahli menyebut ini sebagai dampak dari sistem pendidikan yang terlalu fokus pada angka (IPK) dan gelar, namun mengabaikan pembentukan karakter (soft skills). Akibatnya, lahir generasi yang secara teknis kompeten, namun seringkali arogan dan merasa superior karena tingkat pendidikannya.
"Adab di atas ilmu" kini menjadi pengingat keras bagi dunia pendidikan. Tantangan ke depan bukan lagi sekadar mencetak sarjana, melainkan memastikan bahwa kecerdasan intelektual dibarengi dengan tata krama yang menjadi ciri khas bangsa.
Faktor Pemicu Krisis Karakter Beberapa faktor ditengarai menjadi penyebab mengapa pendidikan tinggi seolah "mandul" dalam mencetak pribadi yang santun:
1. Dampak Budaya Digital: Budaya komentar pedas dan cancel culture di media sosial terbawa ke dunia nyata, membuat batas antara kritik dan ketidaksopanan menjadi kabur.
2. Pergeseran Nilai Keluarga: Banyak orang tua yang menyerahkan 100% urusan moral ke sekolah, padahal pondasi adab seharusnya dimulai dari rumah.
3. Orientasi Karier yang Materialistis: Pendidikan hanya dipandang sebagai tiket untuk mencari uang, bukan sebagai sarana mendewasakan diri.
ekayuda