Dugaan Premanisme dan Sengketa Yayasan Ganggu Sekolah, SMK Turen Hentikan Tatap Muka dan Ajukan Perlindungan
Guetilang.com, Malang — Aktivitas belajar mengajar di SMK Turen, Kabupaten Malang, terdampak konflik berkepanjangan dua kubu yayasan yang saling mengklaim pengelolaan sekolah. Demi menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan pendidikan, pihak sekolah memutuskan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka mulai Kamis, 8 Januari 2026, dan mengalihkan proses belajar melalui pembelajaran daring hingga situasi dinilai aman dan kondusif.
Keputusan ini muncul setelah eskalasi konflik dinilai mulai mengganggu kenyamanan warga sekolah. Pihak sekolah menyebut langkah penghentian tatap muka dilakukan sebagai upaya pencegahan agar peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan tidak berada pada situasi yang berisiko. Sekolah menegaskan, kegiatan tatap muka akan kembali berjalan normal setelah konflik internal yayasan benar-benar terselesaikan dan tidak ada lagi pihak luar yang mengganggu suasana belajar.
Sebagai langkah formal, dewan guru dan karyawan SMK Turen mengajukan permohonan perlindungan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, disampaikan lewat Kantor Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) setempat pada Rabu, 7 Januari 2026. Surat tersebut ditandatangani kepala sekolah sebagai penanggung jawab institusi pendidikan, dan turut ditembuskan kepada sejumlah pihak terkait di tingkat provinsi maupun daerah.
Dalam surat itu, pihak sekolah menekankan dua poin utama. Pertama, sekolah memberitahukan bahwa kegiatan belajar mengajar di lingkungan sekolah dihentikan sementara mulai 8 Januari 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kedua, sekolah menyatakan pembelajaran tatap muka baru akan kembali dibuka setelah konflik internal yayasan tuntas dan lingkungan sekolah kembali kondusif. Selama masa penghentian tatap muka, sekolah memilih menerapkan pembelajaran daring agar hak belajar peserta didik tetap berjalan.
Dampak konflik ini dirasakan langsung oleh peserta didik. Pada Rabu (7/1/2026) pagi, ratusan siswa didampingi guru menggelar aksi aspirasi di halaman sekolah. Mereka menyuarakan penolakan terhadap dugaan tindakan intimidatif dan praktik yang mereka sebut mengarah pada premanisme, serta mendesak agar sengketa pengelolaan sekolah segera diselesaikan. Para siswa juga meminta agar proses belajar mengajar kembali berlangsung normal, tanpa campur tangan pihak luar yang mengganggu ketertiban sekolah.
Truk Tabrak Gerbang SMK Turen pada Malam Hari (Sumber: AI)
Kekhawatiran warga sekolah semakin menguat setelah adanya peristiwa yang ramai diperbincangkan di media sosial pada Minggu dini hari, 28 Desember 2025. Insiden tersebut dikaitkan dengan dugaan upaya masuk atau percobaan penguasaan area sekolah secara paksa yang menyebabkan kerusakan pada gerbang sekolah. Peristiwa ini membuat pihak sekolah menilai bahwa pengamanan dan penertiban perlu dilakukan agar sekolah tidak kembali menjadi ruang konflik.
SMK Turen sendiri memiliki skala yang besar. Data internal sekolah mencatat sekitar 1.600 siswa yang belajar dalam 59 rombongan belajar, dengan dukungan 84 guru serta puluhan karyawan dan staf. Pihak sekolah menilai, jumlah warga sekolah yang banyak membuat perlindungan keamanan menjadi prioritas, sebab satu insiden saja dapat berdampak luas, baik dari sisi keselamatan maupun psikologis peserta didik.
Konflik dua yayasan yang melibatkan klaim pengelolaan SMK Turen disebut telah berlangsung lama dan ditarik sejak 2008. Dua kubu yayasan sama-sama mengklaim hak atas lembaga dan aset sekolah. Dalam situasi ini, pihak sekolah menyatakan fokus utama mereka adalah memastikan pendidikan tetap berjalan dan lingkungan sekolah kembali aman, sehingga kegiatan belajar tidak terus-menerus terganggu oleh persoalan di luar ruang kelas.
Hingga kini, sekolah memilih menutup sementara pembelajaran tatap muka dan menjalankan pembelajaran daring sambil menunggu proses penyelesaian konflik dan langkah perlindungan dari pihak berwenang. Pihak sekolah juga mengajak seluruh pihak menahan diri dan tidak memperkeruh suasana, agar sekolah dapat kembali menjadi ruang belajar yang aman dan kondusif bagi seluruh siswa.
Sumber: diolah dari pemberitaan timesindonesia.com