Pemanfaatan Limbah Ayam sebagai Sumber Pakan Alternatif pada Budidaya Ikan Lele

Tingginya harga pakan ikan masih menjadi persoalan utama dalam budidaya ikan lele. Kondisi ini mendorong pelaku usaha perikanan untuk mencari alternatif pakan yang lebih murah, mudah diperoleh, namun tetap mampu menunjang pertumbuhan ikan secara optimal. Salah satu upaya tersebut dilakukan oleh Ahmad Abdul Aziz, peternak lele di Desa Kemulan, Kecamatan Turen. Wawancara yang dilakukan pada Senin (15/12/2025) oleh tim Maganghub dari Kemnaker mengungkapkan bahwa Aziz memanfaatkan limbah ayam berupa potongan daging, darah, serta usus ayam yang tidak dikonsumsi sebagai pakan alternatif bagi ikan lele yang dibudidayakannya.

Pemanfaatan Limbah Ayam sebagai Sumber Pakan Alternatif pada Budidaya Ikan Lele

Guetilang.com, Malang - Tingginya harga pakan ikan masih menjadi persoalan utama dalam budidaya ikan lele. Biaya pakan yang digunakan dapat mencapai 60-70% dari total biaya produksi, sehingga keuntungan yang diperoleh pembudidaya relatif kecil. Kondisi ini mendorong pelaku usaha perikanan untuk mencari alternatif pakan yang lebih murah, mudah diperoleh, namun tetap mampu menunjang pertumbuhan ikan secara optimal.

Salah satu upaya tersebut dilakukan oleh Ahmad Abdul Aziz, peternak lele di Desa Kemulan, Kecamatan Turen. Wawancara yang dilakukan pada Senin (15/12/2025) oleh tim Maganghub dari Kemnaker mengungkapkan bahwa Aziz memanfaatkan limbah ayam berupa potongan daging, darah, serta usus ayam yang tidak dikonsumsi sebagai pakan alternatif bagi ikan lele yang dibudidayakannya. Limbah ayam tersebut diperoleh dari sisa pemotongan dan diolah terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ikan.

Menurut peternak lele tersebut, pemanfaatan limbah ayam ini menjadi solusi untuk menekan biaya produksi, khususnya biaya pakan yang selama ini menjadi pengeluaran terbesar dalam budidaya lele. 

“Harga pakan pelet komersial terus meningkat, sementara pakan merupakan kebutuhan utama. Dengan memanfaatkan limbah ayam yang diolah dengan baik, biaya pakan dapat ditekan namun kebutuhan nutrisi tetap tercukupi” ungkapnya.

Jenis ikan lele yang dibudidayakan adalah lele mutiara, salah satu varietas unggul yang dikenal memiliki pertumbuhan relatif cepat dan tingkat adaptasi yang baik. Dalam praktiknya, pakan dari limbah ayam diberikan setelah melalui proses pemasakan hingga matang. Pakan yang telah matang dinilai lebih aman, mudah dicerna, serta lebih baik bagi pertumbuhan lele, karena dapat mengurangi risiko munculnya penyakit dan menekan pencemaran kualitas air kolam.

Pemanfaatan limbah ayam sebagai pakan alternatif juga memiliki dasar ilmiah. Beberapa kajian menyebutkan bahwa limbah organ dalam ayam mengandung protein dan lemak hewani yang cukup tinggi, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi ikan air tawar, termasuk lele. Dengan pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat menjadi pakan alternatif yang ekonomis sekaligus bernilai gizi.

Namun demikian, peternak lele tersebut mengakui bahwa usaha budidaya lele tidak lepas dari berbagai kendala, baik yang bersumber dari faktor lingkungan maupun kesehatan ikan. Salah satu kejadian terberat yang pernah dialaminya adalah kematian sekitar 1.500 ekor lele akibat hujan abu vulkanik Gunung Semeru. Abu vulkanik yang masuk ke kolam menyebabkan penurunan kualitas air secara drastis, sehingga memicu stres dan kematian ikan dalam jumlah besar.

Selain faktor lingkungan, penyakit cacar air pada lele juga menjadi salah satu penyebab kegagalan pertumbuhan. Penyakit ini umumnya dipicu oleh kualitas air yang kurang optimal serta kepadatan ikan yang terlalu tinggi di setiap kolam. Sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit, ia menggunakan metode alami dengan menambahkan daun pepaya ke dalam kolam untuk menghambat perkembangan penyakit serta menjaga kesehatan ikan.

Praktik pemanfaatan limbah ayam sebagai pakan alternatif ini dinilai memberikan manfaat ganda. Selain mampu menekan biaya produksi, inovasi ini juga berkontribusi dalam mengurangi limbah peternakan yang berpotensi mencemari lingkungan. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai ekonomi kini dapat dimanfaatkan sebagai input produksi dalam kegiatan budidaya perikanan. Dengan pengolahan dan manajemen budidaya yang baik, inovasi ini dinilai dapat menjadi salah satu solusi berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi dan kemandirian pembudidaya lele di tengah tekanan biaya produksi yang semakin tinggi.