Refleksi 112 Tahun Kota Malang: Menakar Harapan UMKM dan Masa Depan Ekonomi Kreatif

Refleksi 112 Tahun Kota Malang: Menakar Harapan UMKM dan Masa Depan Ekonomi Kreatif

​MALANG — Kota Malang baru saja menginjak usia ke-112 tahun. Di balik perayaan sejarah panjang kota pendidikan ini, terselip harapan besar dari para penggerak roda ekonomi di akar rumput, yakni para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Mereka memimpikan Malang bukan sekadar titik geografis, melainkan sebuah ekosistem kolaborasi yang inklusif bagi anak muda dan kreator lokal.

​Harapan tersebut disuarakan oleh Siktarina Arum Widyati, Founder Lucky Charm Malang sekaligus praktisi digitalisasi UMKM. Baginya, usia 112 tahun adalah momentum bagi Kota Malang untuk mempererat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas kreatif.

​Siktarina mengapresiasi langkah progresif Pemerintah Kota Malang dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran Malang Creative Center (MCC) diakui sebagai terobosan nyata dalam menyediakan ruang fisik bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk berkumpul dan berkarya.

​"Sejauh ini pemerintah sudah cukup mendukung UMKM, baik dari sisi kemudahan perizinan maupun akses informasi terkait bantuan dan hibah dari pihak publik maupun swasta," ujar Siktarina.

​Namun, ia mencatat bahwa infrastruktur megah saja tidak cukup. Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana fasilitas tersebut bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan pelaku usaha tanpa terkecuali.

​Salah satu poin kritis yang disampaikan Siktarina adalah perlunya evaluasi dalam proses kurasi program. Ia melihat adanya kecenderungan bantuan atau kesempatan yang berfokus pada kelompok-kelompok tertentu saja.

​"Mungkin ke depan proses kurasinya perlu didetailkan lagi. Tujuannya agar penerima manfaat program lebih merata dan tidak terbatas pada wajah-wajah yang sama atau kelompok itu-itu saja," tegasnya.

​Lebih lanjut, sosok yang juga aktif sebagai mentor di Milenial Job Center (MJC) ini mengingatkan pemerintah untuk tidak melupakan pelaku UMKM "non-komunitas". Menurut pengamatannya, banyak produk lokal Malang yang memiliki kualitas luar biasa—bahkan standar ekspor—namun belum tersentuh pembinaan karena mereka bergerak secara mandiri di luar organisasi atau komunitas formal.

​Harapan lain yang muncul adalah penguatan strategi promosi. Siktarina mengusulkan agar galeri UMKM, seperti yang ada di MCC, tidak hanya menjadi ruang pameran statis, melainkan dikemas secara masif sebagai destinasi wisata utama.

​Potensi produk lokal Malang sangat besar. Jika promosi dilakukan secara terintegrasi dengan sektor pariwisata, wisatawan yang berkunjung ke Malang tidak hanya mencari pemandangan alam atau kuliner, tetapi juga menjadikan galeri UMKM sebagai titik singgah wajib untuk mengenal identitas kreatif kota ini.

​Menutup aspirasinya, Siktarina berharap di usia yang ke-112 ini, Kota Malang benar-benar mampu bertransformasi menjadi "rumah" bagi semua pihak.

​"Selamat Hari Jadi Kota Malang ke-112. Harapannya, Malang menjadi tempat kita semua bersinergi, di mana anak muda dan UMKM bisa tumbuh bersama dalam ruang kreativitas yang sehat," pungkasnya.

​Dengan adanya evaluasi pada sistem kurasi dan penguatan branding produk lokal, masa depan ekonomi kreatif Kota Malang diyakini akan semakin cerah, membawa produk-produk lokal melintasi batas negara menuju pasar global.