Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Seminar Internasional
Guetilang.com, Jakarta - Manuskrip Alquran dari masa awal Islam telah menjadi fokus pembahasan dalam seminar internasional yang di selenggarakan oleh Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin baru baru ini, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan seminar tersebut di ikuti oleh sekitar 160 profesor dan doktor dari 70 perguruan tinggi Islam baik negeri maupun swasta, yang berlangsung secara hibrid di Yuan Garden Hotel, Jakarta Pusat.
Seminar ini membahas peran manuskrip kuno dalam menelusuri sejarah penulisan Alquran. Forum bertema "Ancient Qur’anic Manuscripts in the History of the Qur’an: Learning from the Mashhad Razavi Manuscript" ini bersifat akademis mengkaji hubungan antara bukti tertulis, tradisi pembacaan, dan perkembangan mushaf pada masa awal Islam.
Mushaf Mashhad Razavi tersimpan di Perpustakaan Astan Quds Razavi di Mashhad, Iran. Manuskrip itu menarik perhatian para peneliti karena menyimpan bukti fisik yang dapat membantu menjelaskan sejarah awal penulisan Alquran. Kajian terhadapnya tidak hanya berkenaan dengan usia dan bentuk tulisan, tetapi juga dengan karakter teks serta susunan surah dalam tradisi manuskrip awal.
Peneliti manuskrip Alquran, Dr Morteza Karimi-Nia, saat ditemui awak media menjelaskan, Mushaf Mashhad Razavi memiliki arti penting bagi penelitian sejarah Alquran.
"Kajian yang telah kami lakukan menelaah karakter teks dan susunan surah, termasuk kaitannya dengan tradisi mushaf pada masa awal Islam," ucap Dr.Morteza.
Salah satu aspek yang diperhatikan adalah perbedaan antara dasar teks dan urutan surah. Teks manuskrip berlandaskan tradisi Utsmani, sedangkan susunan surah dalam bentuk awalnya mengikuti urutan yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas‘ud. Aspek tersebut memberikan ruang bagi penelitian mengenai sejarah penyusunan mushaf, tanpa serta merta menyamakan perbedaan urutan surah dengan perbedaan isi teks Alquran.
Dr.Morteza menekankan, pentingnya keterlibatan peneliti dari Indonesia dalam pengembangan kajian tersebut. Dia berharap para sarjana Indonesia di bidang rasm, qiraat, dan filologi dapat turut mengambil bagian dalam penelitian manuskrip Alquran.
"Ini membuka peluang bagi akademisi Indonesia untuk berkontribusi lebih luas dalam percakapan ilmiah internasional mengenai sejarah mushaf," lanjut Morteza.
Perspektif lain juga disampaikan oleh akademisi Moch Menachem Ali, yang menyoroti pentingnya penelitian mendalam terhadap kodeks Mashhad.
"Kajian terhadap manuskrip itu masih menyimpan ruang pengembangan, terutama untuk memperluas pemahaman mengenai sejarah ortografi Alquran dan variasi tekstual dalam dokumen-dokumen awal,"ucap Moch.Ali
Sejumlah akademisi turut memberikan perspektif dalam seminar ini, di antaranya Prof M Darwis Hude, Prof Sahiron Syamsuddin, dan Dr Abdul Hakim Syukrie. Pertemuan berbagai sudut pandang tersebut memperkaya diskusi tentang manuskrip, sejarah penulisan Alquran dan peluang penelitian lanjutan.
Kegiatan itu di selenggarakan oleh Yayasan Cinta Kasih Fatimah bersama Muassasah Aalulbait Li Ihyai Turats, dengan Khatam Institute di bawah Pesantren Khatamun Nabiyyin. Universitas PTIQ Jakarta dan Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kemenag yang menerima salinan Mushaf Mashhad Razavi ikut terlibat dalam kegiatan itu. (DB)