Ketertiban Jadi Prioritas Saat Takbiran Bertepatan dengan Nyepi di Bali
Pelaksanaan malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 pada Kamis, 19 Maret 2026, menjadi perhatian berbagai pihak di Provinsi Bali. Dalam situasi tersebut, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali mengimbau umat Islam untuk tetap menjaga ketertiban, keamanan, dan toleransi antarumat beragama.
Ketua PWM Bali, Husnul Fahmi, menyampaikan bahwa seruan bersama telah disepakati setelah melakukan beberapa kali pertemuan dengan Forum Kerukunan Umat Beragama. Seruan ini bertujuan untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama di tengah momen yang bertepatan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa umat Islam tetap diperbolehkan melaksanakan takbiran, namun dengan sejumlah pembatasan. Takbiran diimbau dilakukan di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki, tanpa menggunakan pengeras suara, serta tanpa penerangan yang berlebihan.
Berdasarkan surat edaran FKUB, pelaksanaan takbiran diperbolehkan mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WITA dengan ketentuan tidak menyalakan petasan atau bunyi-bunyian lain. Selain itu, pengamanan dan ketertiban kegiatan menjadi tanggung jawab masing-masing pengurus tempat ibadah dengan tetap berkoordinasi bersama aparat keamanan setempat.
Dalam pelaksanaannya, berbagai pihak seperti prajuru desa adat, pecalang, linmas, serta aparat desa dan kelurahan turut dilibatkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban, baik saat Nyepi maupun kegiatan takbiran.
Sementara itu, pelaksanaan Salat Idulfitri juga mengalami penyesuaian waktu. Jika sebelumnya direncanakan pukul 06.00 WITA, pelaksanaan diundur menjadi pukul 06.30 WITA. Pemerintah daerah juga memberikan fasilitas pelaksanaan Salat Id di lapangan depan kantor Gubernur Bali.
Persiapan kegiatan tersebut direncanakan dilakukan sehari sebelum Nyepi. Umat Islam diimbau hadir setelah batas waktu pelaksanaan Nyepi berakhir, guna tetap menghormati jalannya Hari Suci Nyepi.
Menurut Fahmi, kondisi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai toleransi yang telah lama terjalin di Bali. Ia berharap seluruh masyarakat dapat menjaga kerukunan dan saling menghormati dalam menjalankan ibadah masing-masing.
“Momentum ini diharapkan dapat semakin mempererat hubungan antarumat beragama serta menjaga keharmonisan yang telah ada,” ujarnya.
Sumber: muhammadiyah.or.id
Maia Majestania Artika