Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Penentu Keberlanjutan Program MBG

Ketahanan pangan dan energi dinilai menjadi faktor utama agar program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan stabil di tengah tekanan ekonomi global.

Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Penentu Keberlanjutan Program MBG

GUETILANG.COM - Direktur Esther Sri Astuti menilai keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga ketahanan pangan dan energi di tengah tekanan ekonomi global. Menurutnya, konflik geopolitik internasional berpotensi memicu kenaikan harga pangan akibat terganggunya rantai pasok, biaya logistik yang meningkat, serta ketergantungan pada bahan baku impor. Kondisi tersebut dapat berdampak langsung pada besarnya biaya pelaksanaan program MBG.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah perlu berhati-hati dalam mengelola anggaran karena selain mendanai MBG, negara juga harus memenuhi kebutuhan subsidi energi, infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial. Karena itu, pelaksanaan MBG dinilai lebih efektif jika diprioritaskan pada daerah dengan angka stunting tinggi dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar agar anggaran lebih efisien dan tepat sasaran.

Esther juga menekankan pentingnya memperkuat produksi pangan dalam negeri agar kebutuhan bahan baku MBG tidak bergantung pada pasar luar negeri. Ia mendorong pengembangan irigasi, pupuk, teknologi pertanian modern, serta akses pembiayaan bagi petani untuk meningkatkan produktivitas nasional. Selain beras, diversifikasi pangan seperti singkong, sagu, porang, dan sukun juga dinilai berpotensi menjadi sumber karbohidrat alternatif.

Di sektor energi, ia menyebut pengembangan energi terbarukan seperti tenaga air, angin, matahari, hingga pengolahan sampah menjadi energi penting untuk menekan dampak gejolak harga energi dunia. Dengan ketahanan pangan dan energi yang kuat, program MBG dinilai akan lebih stabil dan mampu terus berjalan meski di tengah tekanan ekonomi global.