Transformasi Pariwisata Yogyakarta: Borobudur & Prambanan Hadirkan Event Baru untuk 2026
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta bersama pengelola kompleks wisata Borobudur dan Prambanan merancang transformasi besar dalam pariwisata budaya untuk tahun 2026. Rangkaian event budaya dan pengalaman wisata baru akan dikembangkan di kedua situs warisan dunia ini, bertujuan meningkatkan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara serta memperkaya pengalaman budaya pengunjung. Berita ini membahas rencana transformasi pariwisata Yogyakarta melalui pengembangan acara baru di kompleks Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Inisiatif ini difokuskan pada penggabungan elemen budaya, sejarah dan atraksi modern dalam upaya menarik lebih banyak wisatawan, sekaligus menjaga warisan budaya dan keberlanjutan pariwisata.
Yogyakarta — Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta bersama dengan pengelola objek wisata besar seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan melakukan transformasi besar pada sektor pariwisatanya untuk tahun 2026. Upaya ini bertujuan meningkatkan daya tarik kedua ikon budaya tersebut melalui pengembangan event-event baru yang menggabungkan budaya, sejarah, dan pengalaman wisata yang lebih interaktif bagi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara.
Program transformasi ini melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, dan pengelola situs warisan budaya. Event-event mendatang akan memadukan pameran budaya, pertunjukan seni tradisional, workshop kerajinan lokal, hingga pengalaman kuliner khas Yogyakarta. Tujuan utamanya adalah menciptakan pengalaman wisata yang lebih kaya, tidak hanya sekadar kunjungan melihat bangunan bersejarah, tetapi juga ikut merasakan nilai-nilai budaya di baliknya.
Selain itu, event budaya seperti Prambanan Shiva Festival yang berlangsung pada Januari–Februari 2026 turut menjadi bagian dari strategi menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi budaya dan spiritual yang hidup. Festival ini dilaksanakan di kompleks Candi Prambanan dan diharapkan dapat menarik wisatawan yang mencari pengalaman religius dan kultural dalam satu kunjungan.
Rencana transformasi pariwisata di Yogyakarta juga selaras dengan strategi jangka panjang pemerintah daerah yang menempatkan tahun 2026 sebagai fase peletakan fondasi transformasi pariwisata berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Fokus utama adalah penguatan tata kelola destinasi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam sektor pariwisata, penguatan pemasaran terpadu, serta daya saing internasional.
Para pemangku kepentingan berharap bahwa pembaruan event budaya dan aktivitas wisata ini akan memperluas market reach Yogyakarta di pasar global, mengangkat citra budaya Indonesia di tingkat internasional, serta memberikan dampak positif pada ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku UMKM, pelestarian tradisi, dan pemberdayaan komunitas setempat.
Anggelia Nur Sagita