SMK Disiapkan Jadi Mesin Talenta Global! KemenP2MI Tancap Gas Cetak Pekerja Migran Profesional

KemenP2MI memperkuat program SMK Go Global untuk menyiapkan lulusan vokasi berdaya saing internasional melalui pelatihan, sertifikasi, dan kolaborasi pusat-daerah.

SMK Disiapkan Jadi Mesin Talenta Global! KemenP2MI Tancap Gas Cetak Pekerja Migran Profesional
SMK Disiapkan Jadi Mesin Talenta Global! KemenP2MI Tancap Gas Cetak Pekerja Migran Profesional

Jakarta — Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) semakin serius menyiapkan sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing di pasar kerja internasional. Melalui penguatan visi dan sinergi lintas sektor, KemenP2MI mendorong Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi garda terdepan pencetak talenta pekerja migran sektor formal berdaya saing global.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “SMK Go Global” yang dipimpin langsung oleh Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, di Command Center KemenP2MI, Kamis (23/1). FGD ini melibatkan unit teknis di lingkungan KemenP2MI serta Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) dari 10 provinsi basis pekerja migran di Indonesia.

Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyatukan visi dan langkah konkret dalam menyiapkan lulusan SMK yang tidak hanya siap kerja di dalam negeri, tetapi juga mampu mengisi kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara tujuan utama penempatan pekerja migran Indonesia.

Dalam arahannya, Wakil Menteri P2MI menekankan bahwa tantangan global menuntut perubahan pendekatan dalam pendidikan vokasi. SMK tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi harus mampu melahirkan tenaga kerja profesional yang kompeten, tersertifikasi, dan terlindungi secara hukum.

“SMK harus kita siapkan sebagai inkubator pekerja migran sektor formal, dengan kompetensi yang sesuai standar internasional, sehingga penempatan ke luar negeri dapat dilakukan secara aman, legal, dan bermartabat,” ujar Dzulfikar.

FGD tersebut memfokuskan pembahasan pada tiga agenda utama, yakni penyelarasan kurikulum vokasi dengan kebutuhan pasar kerja global, penguatan pelatihan berbasis kompetensi, serta optimalisasi sertifikasi yang diakui secara internasional. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan lulusan SMK memiliki keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri di negara tujuan.

KemenP2MI juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis data real-time dalam perencanaan penempatan pekerja migran. Melalui pemanfaatan data kebutuhan tenaga kerja luar negeri, SMK diarahkan untuk membuka dan mengembangkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan pasar, khususnya di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Jerman.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat konsep link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja internasional, sekaligus menekan risiko pengangguran lulusan SMK.

Tidak hanya itu, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi perhatian utama dalam forum ini. BP3MI dari berbagai daerah diharapkan berperan aktif dalam mengawal proses penyiapan calon pekerja migran sejak tahap pendidikan, pelatihan, hingga penempatan dan pelindungan.

“Kunci keberhasilan program ini ada pada kolaborasi. Pemerintah pusat menyiapkan kebijakan dan sistem, sementara daerah menjadi ujung tombak implementasi di lapangan,” kata Dzulfikar.

Melalui program SMK Go Global, KemenP2MI menargetkan lahirnya generasi pekerja migran Indonesia yang tidak hanya berorientasi pada penempatan, tetapi juga pada kualitas, profesionalisme, dan keberlanjutan karier. Upaya ini sejalan dengan visi nasional dalam meningkatkan kontribusi pekerja migran terhadap perekonomian sekaligus memperkuat citra tenaga kerja Indonesia di mata dunia.

Dengan penguatan pendidikan vokasi, pelatihan, dan pelindungan yang terintegrasi, KemenP2MI optimistis SMK dapat menjadi fondasi utama dalam mencetak tenaga kerja Indonesia yang kompeten, terlindungi, dan berdaya saing global.

Sumber: Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI)