Antara Doa dan Sahabat: Dua Cara Berbeda Siswa Perhotelan Bertahan dari Tekanan Mental
Siswa SMK Perhotelan menghadapi tekanan yang berbeda-beda selama masa sekolah. Ada yang merasa tertekan oleh tuntutan nilai dan dinamika pertemanan, ada pula yang merasa nyaman karena lingkungan belajar yang suportif.
Siswa sekolah menengah kejuruan yang mempelajari perhotelan berfokus pada pengembangan keterampilan layanan di berbagai area, seperti front office, restoran, dapur, dan tata graha hotel. Komunikasi yang efektif menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas interaksi dengan tamu. Dengan mempraktikkan keterampilan layanan ini, para siswa juga dapat mengembangkan kemampuan komunikasi mereka melalui interaksi langsung dengan pelanggan. Meskipun belajar di berbagai area yang berbeda bisa menjadi tantangan tersendiri, siswa tetap dituntut untuk menguasai keterampilan praktis yang spesifik di setiap lingkungan tersebut. Selain itu, merawat kesehatan mental mereka sendiri menjadi hal yang sangat penting di tengah tekanan yang mereka hadapi.
Kesehatan mental telah menjadi salah satu perhatian utama yang paling mendesak bagi kaum muda saat ini. Lebih dari sebelumnya, mereka membutuhkan lingkungan yang tidak hanya suportif dan aman, tetapi juga mendorong mereka untuk menjadi kreatif, membangun koneksi, dan mengekspresikan diri mereka dengan bebas. Memiliki ruang yang seperti ini sangatlah penting bagi mereka untuk menghadapi berbagai tantangan dan bertumbuh.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, kami berbincang dengan dua siswi perhotelan dari SMK Mahadhika 3, Dimi dan Zena. Meski berada di jurusan yang sama, pengalaman mereka menunjukkan bahwa perjalanan setiap murid itu unik.
Ketika ditanya mengenai pengalaman mereka menjalani sekolah perhotelan, jawaban mereka mencerminkan antusiasme yang besar. Dimi mengaku, "Seru sekali, tetapi selama 3 tahun saya sekolah, banyak sekali suka duka dalam menjalani masa pembelajaran dan relasi dengan banyak orang." Sementara itu, Zena lebih menyoroti aspek positif dari lingkungan belajarnya. "Banyak ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan. Pembelajarannya juga santai, dapat ilmu secara langsung melalui PKL, dan teman-teman yang membuat saya setiap hari asyik," ungkapnya.
Namun, di balik keseruan itu, pertanyaan tentang tantangan mental pun muncul. Di sinilah perbedaan persepsi mulai terlihat. Dimi dengan jujur berbagi tentang tekanannya. "Ada sih, pasti, Kak. Terlebih lagi, tantangan untuk bisa mendapatkan nilai yang cukup baik dan mempertahankan nilai itu supaya tidak mengecewakan keluarga mengambil rapor. Kalau dari segi pertemanan sih, cukup sulit juga ya, karena harus memahami karakter dari berbagai macam teman di sini," jelasnya. Tekanan akademis untuk memenuhi harapan keluarga dan dinamika pertemanan menjadi beban tersendiri baginya. Sebaliknya, Zena memberikan perspektif yang berbeda, "Dari segi pembelajaran dan pertemanan, saya tidak merasa adanya tekanan." Pernyataan ini menunjukkan bahwa tingkat stres bisa sangat subjektif dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk dukungan sosial dan cara pandang pribadi.
Lalu, bagaimana cara mereka berdua berdamai dengan tekanan yang ada? Cara mereka mengelola kesehatan mental pun sama berbedanya dengan pengalaman mereka. Dimi memilih pendekatan spiritual dan pengembangan diri. "Lebih banyak berdoa ke Tuhan dan selalu belajar hal-hal baru, sih, Kak," ujarnya. Sementara itu, Zena menemukan obat penenangnya dalam lingkaran pertemanan. "Jika ada tekanan atau hal yang mengganggu pikiran saya, saya hanya perlu bertemu dengan sahabat-sahabat saya yang pastinya akan menghibur saya.”
Dari cerita Dimi dan Zena, kita belajar bahwa pengalaman setiap siswa di sekolah perhotelan itu berbeda-beda. Ada yang merasakan tekanan dari nilai dan pertemanan seperti Dimi, ada pula yang merasa nyaman berkat lingkungan yang suportif seperti Zena. Yang menarik, keduanya tetap bisa bertahan dengan cara masing-masing. Dimi melalui doa dan belajar hal baru, Zena dengan kebersamaan bersama sahabat. Pada akhirnya, tidak ada cara yang salah dalam menjaga kesehatan mental, selama kita jujur pada diri sendiri dan berani melakukan apa yang terbaik untuk ketenangan hati dan pikiran kita.