Sawit Menguat, Ekonomi Daerah Bangkit di Kalimantan Tengah

Komoditas kelapa sawit terus menjadi denyut utama perekonomian masyarakat di Kalimantan Tengah. Di tengah dinamika harga global dan tantangan lingkungan, sektor ini tetap menunjukkan peran penting sebagai sumber penghidupan ribuan keluarga, sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Sawit Menguat, Ekonomi Daerah Bangkit di Kalimantan Tengah

Guetilang.com - Komoditas kelapa sawit terus menjadi denyut utama perekonomian masyarakat di Kalimantan Tengah. Di tengah dinamika harga global dan tantangan lingkungan, sektor ini tetap menunjukkan peran penting sebagai sumber penghidupan ribuan keluarga, sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Pada periode 2025 hingga awal 2026, Kalimantan Tengah masih tercatat sebagai salah satu sentra sawit terbesar di Indonesia. Luas perkebunan yang mencapai jutaan hektare tersebar di berbagai kabupaten, seperti Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Kapuas. Hamparan kebun sawit tersebut tidak hanya menjadi lanskap ekonomi, tetapi juga ruang hidup bagi para petani, buruh kebun, dan pelaku usaha lokal.

Bagi banyak warga pedesaan, sawit bukan sekadar tanaman, melainkan sumber utama nafkah. Setiap musim panen, aktivitas pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) ke pabrik menjadi pemandangan rutin. Dari hasil panen inilah, kebutuhan keluarga, pendidikan anak, hingga modal usaha kecil dapat terpenuhi.

Sepanjang tahun 2025, harga TBS di Kalimantan Tengah menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Berdasarkan penetapan resmi Dinas Perkebunan, harga TBS berada di kisaran Rp2.400 hingga Rp3.300 per kilogram, tergantung umur tanaman. Kondisi ini memberikan angin segar bagi petani plasma dan pekebun rakyat, setelah sebelumnya sempat menghadapi fluktuasi harga yang cukup tajam.

Selain menopang ekonomi rumah tangga, sektor sawit juga berkontribusi besar terhadap pendapatan daerah. Aktivitas perkebunan mendorong pertumbuhan sektor lain, mulai dari transportasi, perdagangan, hingga jasa. Warung makan, bengkel, usaha logistik, dan pasar tradisional turut merasakan dampak positif dari perputaran ekonomi sawit.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, tantangan tetap ada. Isu lingkungan, tata kelola lahan, serta tuntutan pasar global terhadap produk berkelanjutan menjadi perhatian serius. Pemerintah daerah bersama pelaku usaha terus mendorong penerapan sertifikasi dan praktik perkebunan ramah lingkungan, agar industri sawit tetap berdaya saing tanpa mengabaikan kelestarian alam.

Upaya pembinaan petani juga terus diperkuat, termasuk pendataan kebun rakyat, peningkatan kualitas bibit, serta pelatihan manajemen usaha. Langkah ini bertujuan agar petani tidak hanya menjadi pekerja di lahannya sendiri, tetapi mampu tumbuh sebagai pelaku ekonomi yang mandiri.

Memasuki tahun 2026, sektor sawit Kalimantan Tengah masih diproyeksikan menjadi tulang punggung pembangunan daerah. Dengan pengelolaan yang lebih baik, transparan, dan berkelanjutan, sawit diharapkan tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga membawa kesejahteraan jangka panjang bagi masyarakat.

Bagi warga Kalimantan Tengah, sawit bukan sekadar komoditas ekspor. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, saksi kerja keras petani, dan harapan bagi masa depan ekonomi daerah yang lebih kuat dan berkeadilan.