Samarinda Ulu akan mengolah sampah plastik menjadi paving block, membuka kesempatan ekonomi bagi warga.

Berita ini membahas inisiatif Pemerintah Kecamatan Samarinda Ulu dalam mengolah limbah plastik menjadi paving block sebagai solusi inovatif untuk mengatasi masalah sampah sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Program ini didukung oleh riset teknologi serta dana CSR sebesar Rp60 juta untuk pengadaan mesin produksi. Selain bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan, produksi paving block dari sampah plastik juga menyasar peluang pasar besar, khususnya kebutuhan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang memiliki permintaan tinggi. Melalui program ini, pemerintah kecamatan berharap tercipta lingkungan yang lebih bersih, pengelolaan sampah yang berkelanjutan, serta peningkatan pendapatan warga.

Samarinda Ulu akan mengolah sampah plastik menjadi paving block, membuka kesempatan ekonomi bagi warga.

SAMARINDA – Upaya mengurangi sampah di Kecamatan Samarinda Ulu tidak hanya fokus pada pemilahan, tetapi juga pada pemanfaatan sampah sebagai sumber penghasilan baru. Salah satu inovasi yang disiapkan adalah pengolahan sampah plastik tidak terpakai menjadi paving block.

Camat Samarinda Ulu, Sujono, menjelaskan gagasan ini lahir dari banyaknya sampah plastik kresek yang menumpuk di Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) dan saluran air. Padahal jenis sampah ini bisa diolah kembali menjadi bahan bangunan yang bernilai tinggi. “Kresek plastik yang selama ini dianggap tidak berguna, sebenarnya bisa jadi bahan dasar paving block. Ini peluang besar, bukan hanya mengurangi sampah tapi juga meningkatkan ekonomi,” katanya, Selasa (13/1).

Untuk mewujudkan program ini, pihak kecamatan bersama seluruh kelurahan, yang dijalankan oleh Lurah Bukit Pinang Eko Purwanto, telah melakukan studi ke Separi, Kabupaten Kukar yang sebelumnya sudah mengembangkan teknologi serupa. Hasil studi menunjukkan, satu unit tungku mesin penghasil paving block membutuhkan anggaran sekitar Rp12–15 juta. “Kami sudah mendapatkan persetujuan dari perusahaan melalui CSR sekitar Rp60 juta. Insya Allah, kita bisa operasikan empat sampai lima unit,” jelasnya.

Ia menyebut, salah satu tungku produksi direncanakan ditempatkan di wilayah Bukit Pinang, dekat fasilitas insinerator. Sampah plastik tidak terpakai akan dikumpulkan dari bank sampah, dimasukkan ke dalam tungku, dilelehkan, lalu dicetak menjadi paving block. “Untuk satu paving block dibutuhkan sekitar 2 kg sampah,” katanya.

Sujono menambahkan, potensi pasar cukup besar. Bahkan dari informasi yang diterima, permintaan paving block untuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) mencapai sekitar 34 ribu buah, sedangkan yang bisa dipenuhi baru sebagian kecil. “Ini peluang bisnis yang nyata. Bahan bakunya sampah, tapi nilai jualnya tinggi,” terangnya.

Selain paving block, kecamatan juga mendorong penggunaan drum komposter di setiap RT untuk mengolah sampah organik. Nantinya, penggunaan komposter didorong melalui anggaran Pro Bebaya. Dengan kombinasi bank sampah, paving block, komposter, dan insinerator, diharapkan beban sampah di Samarinda Ulu dapat dikurangi secara signifikan.

“Target kami jelas, sampah berkurang, lingkungan lebih bersih, dan ekonomi warga ikut berkembang,” pungkasnya. (*)

Sumber : Kaltim post Id