Cegah Bullying Sejak Dini, Motekar Cisaat Berikan Edukasi Kepada Siswa Mts Yasti 1
Guetilang.com, Sukabumi – Upaya mencegah perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan terus dilakukan melalui penguatan pemahaman kepada peserta didik. Hal itu dilakukan tim Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) Kecamatan Cisaat dengan memberikan edukasi mengenai bullying kepada siswa MTs Yasti 1 Cisaat, Rabu (09/09/2026).
Materi disampaikan oleh Siti Jamilah, Motekar dari Kecamatan Cidahu, bersama Aroh dari Kecamatan Cisaat. Keduanya memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pengertian bullying, berbagai bentuk perundungan, dampak yang dapat ditimbulkan, hingga langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.
Siti Jamilah menjelaskan, bullying merupakan perilaku yang menyakiti orang lain, baik secara fisik, verbal maupun melalui media digital, yang dilakukan secara berulang.
"Bullying adalah perilaku menyakiti orang lain baik secara fisik, verbal maupun digital atau media sosial secara berulang," jelas Siti dalam pemaparannya.
Ia kemudian memberikan sejumlah contoh kepada siswa agar lebih mudah mengenali tindakan yang termasuk perundungan.
Menurut Siti, bullying tidak hanya berupa tindakan kekerasan secara fisik. Perundungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan lingkungan, termasuk melalui interaksi sosial maupun media digital.
Bullying secara fisik, misalnya, dapat berupa memukul, menendang, atau berkelahi. Sementara bullying secara verbal dapat berupa menghina dan mengejek seseorang.
Adapun dalam hubungan sosial, perundungan dapat dilakukan dengan cara mengucilkan seseorang atau sengaja tidak mengajak teman untuk bermain dan berinteraksi.
Sedangkan di ruang digital, bullying dapat berupa mengirim atau memposting konten yang bertujuan menjatuhkan, mempermalukan, atau menyakiti orang lain.
Pemahaman mengenai bentuk-bentuk tersebut dinilai penting agar siswa mampu membedakan candaan dengan tindakan yang berpotensi menyakiti orang lain.
Isu perundungan di ruang digital juga menjadi perhatian dalam kebijakan pendidikan saat ini. Kemendikdasmen menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman, termasuk menghadapi perundungan siber atau cyberbullying.
Dalam kegiatan tersebut, Siti Jamilah juga menyampaikan apresiasi terhadap upaya penanganan siswa yang telah dilakukan MTs Yasti 1 Cisaat.
Hal itu disampaikan setelah dirinya melakukan wawancara dengan kepala MTs Yasti 1 Cisaat terkait pola penanganan terhadap siswa, termasuk penerapan sistem poin serta dukungan layanan bimbingan.
Menurut Siti, penanganan siswa melalui sistem poin yang dipadukan dengan bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karier dapat menjadi salah satu upaya untuk menekan potensi terjadinya bullying di lingkungan sekolah.
Ia juga menilai karakter pendidikan di MTs Yasti 1 yang bernuansa keislaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya keimanan, ketakwaan, akhlak, dan sikap saling menghormati.
Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat ditanamkan sejak dini sehingga siswa memiliki kesadaran untuk menghindari perilaku yang dapat menyakiti atau merendahkan orang lain.
Pada akhir pemaparan, tim Motekar Kecamatan Cisaat memberikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi bullying.
Pertama, mengajarkan sikap saling menghormati sejak dini. Kedua, tidak melakukan ejekan terhadap kondisi fisik, ekonomi, maupun aspek pribadi lainnya.
Ketiga, membiasakan komunikasi yang sopan dan positif. Keempat, berani melapor ketika melihat tindakan perundungan.
Kelima, tidak ikut menyebarkan ejekan atau konten perundungan melalui media sosial. Keenam, guru dan orang tua harus tanggap terhadap laporan yang disampaikan anak.
Ketujuh, membangun budaya peduli dan empati di lingkungan sekolah. Kedelapan, memberikan pendampingan terhadap pelaku agar persoalan tidak hanya diselesaikan melalui hukuman, tetapi juga melalui pembinaan.
Pendekatan yang melibatkan siswa, guru, dan keluarga tersebut sejalan dengan dorongan pemerintah agar pencegahan perundungan dilakukan secara bersama-sama dan membangun lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta mendukung perkembangan peserta didik.
Kegiatan edukasi berlangsung secara interaktif. Setelah seluruh materi disampaikan, siswa diajak melakukan refleksi melalui sesi tanya jawab.
Untuk mendorong keberanian siswa berpartisipasi, tim Motekar memberikan doorprize kepada siswa yang berani menjawab pertanyaan dan maju ke depan.
Suasana kegiatan pun berlangsung dengan antusias. Siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat dalam interaksi sehingga pembahasan mengenai bullying dapat disampaikan dengan suasana yang menyenangkan dan tidak menjenuhkan.
Kegiatan tersebut berjalan lancar dengan partisipasi aktif para siswa.
Edukasi mengenai bullying ini juga menjadi bagian awal dari rangkaian kegiatan yang akan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pencegahan bullying dan pencegahan pernikahan dini.
Melalui kegiatan tersebut, Motekar Kecamatan Cisaat berharap pemahaman siswa mengenai pentingnya membangun hubungan yang sehat, saling menghormati, peduli terhadap sesama, serta berani menyampaikan laporan ketika menemukan tindakan perundungan dapat semakin kuat.
Upaya tersebut diharapkan turut mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa MTs Yasti 1 Cisaat, sekaligus membangun karakter generasi muda yang memiliki kepedulian dan empati terhadap lingkungan sekitarnya.(DB)