Tari Kecak di TMII Jadi Daya Tarik Baru Wisata Budaya
Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kembali menarik perhatian masyarakat pascarevitalisasi. Tidak hanya menghadirkan wajah kawasan yang lebih tertata dan modern, TMII kini menghadirkan pertunjukan Tari Kecak yang sukses menjadi magnet baru bagi pengunjung.
Tari tradisional asal Bali ini identik dengan lantunan serempak “cak” yang diucapkan puluhan penari secara berulang. Irama vokal yang saling bersahutan, gerakan tangan yang selaras, serta pengisahan epos Ramayana menciptakan atmosfer pertunjukan yang memukau. Penonton kerap larut dalam suasana, seolah menyaksikan langsung pertunjukan di Pulau Dewata.
Tari Kecak mulai dikenal luas sejak dekade 1930-an di Bali. Tarian ini sering dijuluki sebagai “tari api” karena kerap dipentaskan dengan elemen api dalam penggambaran kisah Ramayana. Keunikannya terletak pada absennya alat musik pengiring; seluruh harmoni tercipta dari paduan suara para penari.
Pengakuan dunia terhadap kesenian ini semakin kuat setelah UNESCO menetapkannya sebagai bagian dari warisan budaya tak benda. Selain itu, data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2023 menunjukkan bahwa Tari Kecak termasuk lima atraksi budaya Bali yang paling diminati wisatawan mancanegara.
Kehadiran pertunjukan Kecak di TMII membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati kesenian tersebut tanpa harus berkunjung langsung ke Bali. Sejak diresmikan kembali pada 2022, TMII mencatat peningkatan jumlah pengunjung yang signifikan. Kementerian Sekretariat Negara pada 2023 melaporkan adanya kenaikan hingga 40 persen dibandingkan periode sebelum revitalisasi, di mana program pertunjukan budaya menjadi salah satu faktor pendukung.
Bagi keluarga yang datang, pertunjukan ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran. Anak-anak dapat mengenal kisah Ramayana sekaligus memahami nilai kebersamaan dan gotong royong yang tergambar dalam formasi para penari.
Meski demikian, muncul beragam pandangan terkait pementasan Kecak di luar daerah asalnya. Sebagian kalangan beranggapan bahwa tradisi sebaiknya tetap dipertunjukkan di tempat kelahirannya. Namun, ada pula yang menilai langkah ini sebagai inovasi agar seni tradisi dapat menjangkau masyarakat perkotaan secara lebih luas.
Selama keaslian gerak, nilai, dan filosofi budaya tetap dijaga, pementasan Kecak di TMII dapat dipandang sebagai strategi pelestarian yang relevan. Tradisi yang mampu beradaptasi dengan ruang baru berpeluang untuk terus bertahan dan berkembang.
Antusiasme pengunjung membuktikan bahwa masyarakat Indonesia tetap memiliki minat tinggi terhadap pertunjukan berbasis budaya. Di tengah arus hiburan modern, kesenian tradisional masih memegang tempat istimewa. Pertunjukan Kecak di TMII pun menjadi simbol upaya merawat identitas bangsa melalui panggung yang lebih inklusif dan terbuka.
rekavaprilia