Rayakan Idul Fitri, Masyarakat Kota Bandung Nyekar di TPU Cibangkong

Rayakan Idul Fitri, Masyarakat Kota Bandung Nyekar di TPU Cibangkong

Guetilang.com, Bandung - Umat Islam setiap daerah  di Indonesia tentunya memiliki tradisi tersendiri dalam merayakan Idul Fitri. Sebut saja mudik, takbiran, halal bihalal, dan lain-lain. Mungkin itu merupakan sebagian kecil tradisi yang awam dilakukan oleh umat Islam di Indonesia. Selain yang disebutkan tadi, ada satu tradisi yang mungkin cukup mustahak diamalkan atau dilaksanakan oleh masyarakat, yaitu ziarah kkubur atau nyekar. Biasanya tradisi ini dilakukan setelah Sholat Ied untuk mendoakan anggota keluarga dan leluhur yang sudah tiada.

Pada Idul Fitri 1444 H tahun ini yang bertepatan pada hari Sabtu, 22 April 2023. Di Bandung tepatnya di Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, terdapat TPU yang setiap Syawal tiba selalu ramai dikunjungi peziarah, banyak dari mereka merupakan pemudik ataupun keluarga besar juga kerabat yang tujuan utamanya untuk nyekar atau ziarah kubur. Kegiatan ziarah ini biasanya terus berlangsung selama seminggu setelah lebaran.

Salah seorang peziarah di TPU Cibangkong bernama Agus menuturkan, "Ziarah kubur atau nyekar ini biasa keluarga saya lakukan setelah seluruh keluarga besar berkumpul untuk sungkeman, lalu bersama-sama pergi ke makam untuk ziarah ke anggota keluarga yang telah tiada, ya tujuannya untuk mendoakan dan memaafkan untuk meringankan beban mereka". 

Di dalam nyekar, umum dilakukan adalah bersih-bersih makam pada area batu nisan atau bisa disebut besik dan pembacaan tuntunan doa atau bagian dari surat Al-Quran, untuk ketentuan surat panjang pendeknya, bervariasi dari setiap kultur di Indonesia, hal ini menciptakan waktu yang dibutuhkan dalam nyekar berbeda-beda, dari yang singkat  beberapa menit, berjam-jam, sampai ada yang seharian.

Sebelum melakukan besik, biasanya peziarah terlebih dahulu membeli bunga untuk nantinya ditabur di makam anggota keluarganya yang sudah tiada. Para penjual bunga banyak berjejer sebelum pintu masuk TPU bahkan sepanjang jalan TPU. "Setiap tahunnya di hari lebaran pasti banyak yang ziarah, disini saya ada bunga mawar, daun kenanga sama daun pandan, kanthil juga kemenyan. Alhamdulillah lumayan lah dapat untung cukup", pungkas Teh Ayu salah satu penjual bunga di TPU Cibangkong.

Tradisi ziarah kubur atau nyekar tercipta dari keinginan umat Islam untuk memasuki bulan suci dalam keadaan fitrah. Umat Islam berhasrat segala kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan, baik sengaja maupun tidak sengaja, dimaafkan oleh teman, kerabat, dan keluarga besar supaya mereka bisa menyambut bulan Syawal dengan pembawaan jiwa tenang dan tulus.  Nah, permohonan maaf ini juga ditujukan pada anggota keluarga dan leluhur yang sudah meninggal sekaligus mendoakan agar meringankan beban dari anggota keluarga yang sudah wafat tersebut.  Nyekar mengingatkan kita, bahwa setiap manusia kelak juga akan mengalami kematian.  

(Rafid Ramadhani/Guetilang.com)